Legenda Kelam Malin Kundang berhasil merekonstruksi dongeng menjadi thriller psikologis suram yang memotret masalah sosial kompleks melalui visual tak nyaman dan performa kuat Rio Dewanto, meskipun identitas sutradara Rafki dan Kevin masih terasa tertutup oleh gaya khas Joko Anwar yang terlalu mendominasi.
Jumbo membawa industri animasi lokal ke level yang lebih tinggi melalui eksekusi visual yang detail dan memukau, naskah emosional yang tersusun rapi, serta performa pengisi suara yang imajinatif, menjadikannya tontonan universal yang memuaskan bagi segala usia.
Gowok Kamasutra Jawa berhasil memadukan narasi sejarah dan feminisme yang edukatif dengan dukungan performa akting serta desain produksi yang total, namun keindahan autentik tersebut tercederai oleh kualitas efek visual yang kaku dan penyuntingan warna yang mengganggu estetika.
Meskipun menghibur lewat nostalgia dan performa solid para aktor utama, naskah David Koepp terasa bertele-tele, terlalu rumit, dan memuat karakter tak penting, menjadikan film ini sekadar produk bisnis yang tak mampu menggantikan kesan orisinal Jurassic Park.
Kendati didukung visual estetik dan dominasi akting Widyawati yang memukau, A Normal Woman berakhir menjadi tontonan hampa yang gagal menggugah emosi akibat penuturan kaku layaknya tugas kuliah serta performa pemeran utama yang tidak seimbang.
Zootopia 2 berhasil menyeimbangkan visual memukau dan humor cerdas dengan naskah Jared Bush yang jauh lebih berani mengupas isu sosial-politik kompleks serta emosional bagi penonton dewasa.
Qorin 2 lebih menonjolkan elemen balas dendam dan kekerasan dibanding horor supranaturalnya, dengan alur cerita yang repetitif serta pengembangan karakter dan konsep qorin yang kurang jelas, meski didukung aspek teknis visual dan akting berani Fedi Nuril.
Avatar: Fire and Ash kembali memukau lewat visual ekstrem dan skala produksi yang nyaris tak tertandingi, dengan aksi lebih brutal dan intens dari film sebelumnya. Namun, pola cerita yang berulang, penambahan karakter berlebih, dan eksperimen naratif yang kurang kuat membuat saga ini terasa semakin kolosal secara teknis, tapi stagnan secara dramatis.
Janur Ireng: Sewu Dino The Prequel menawarkan naskah dan eksekusi yang lebih berani dari film sebelumnya, namun gagal membangun keterkaitan yang bermakna dengan semesta utama Sewu Dino, dan justru terasa seperti spin-off dengan fokus cerita yang kurang kuat.
Lupa Daratan menyoroti isu industri film dan hubungan kakak-adik lewat pendekatan komedi-drama khas Ernest Prakasa, namun kekuatan emosional film ini lebih terasa berkat performa Agus Kuncoro sebagai Ikhsan, bukan pada premis utama atau sisi komedi Vino G Bastian.