Mengadaptasi Gonjiam: Haunted Asylum ke dalam 402 Rumah Sakit Angker Korea adalah proyek berisiko. Meski ada usaha kreatif, film ini terasa aneh dengan perpaduan elemen mistik Indonesia yang memaksa. Set dan sinematografi bagus, tetapi tambahan twist dan gaya found footage terlalu rapi mengurangi kesan horor mentah. Film ini memperkenalkan cerita orisinal tetapi gagal menandingi aslinya.
Keputusan Disney setia pada cerita asli tanpa "ngide banget" membuat Moana menyamai magis versi animasinya. Visualnya cantik dan Catherine Laga'aia bersinar terang sebagai Moana. Meski performa Dwayne Johnson naik turun dan chemistry-nya kurang solid, hasil racikan ini membuktikan live-action cuma butuh kesetiaan pada cerita aslinya tanpa perlu memaksakan perubahan.
Toy Story 5 membuktikan konsistensi kualitas, produksi, dan kedalaman rasa. Ceritanya lebih gelap, mengangkat isu kecanduan gadget sekaligus menawarkan penawar manis lewat imajinasi. Ditambah visual yang berkembang signifikan, tribut spesial Jessie yang emosional, serta musik magis, film ini adalah langkah survival brilian untuk mempertahankan legasi di tengah perubahan zaman.
Backrooms seperti pengalaman MRI: menegangkan, penuh tekanan, tapi hasil akhirnya samar dan tak memuaskan semua orang. Naskah Soodik terasa labirin, kadang dipaksakan, namun atmosfer, desain produksi, sorotan kamera, dan musik patut diacungi jempol. Akting Ejiofor dan Reinsve solid, tapi penonton tetap pulang dengan banyak pertanyaan menggantung.
Hokum menyajikan cerita sederhana tapi dieksekusi Damian McCarthy dengan visual dan atmosfer menegangkan yang patut diacungi jempol. Jumpscare-nya memang standar, namun tetap efektif. Folklor Irlandia jadi keunikan tersendiri. Dukungan tim produksi, scoring, serta jajaran pemain solid. Tak perlu ada sequel, biarkan legasi Hokum berdiri sendiri sebagai horor yang solid dan berkesan.
Children of Heaven (2026) sukses memodifikasi cerita aslinya dengan sentuhan drama khas Indonesia, komedi segar, dan detail yang lebih logis. Chemistry Jared Ali dan Humaira Jahra kuat, didukung penampilan para pemeran pendukung yang mencuri perhatian. Meski ada beberapa detail yang mengganjal, film ini jadi jawaban yang ditunggu penonton film originalnya.
Penampilan Shareefa Daanish jadi satu-satunya alasan Menjelang Ajal masih layak ditonton, menutupi naskah kacau dan dialog cringe ala anak gaul awal 2000-an. Penyutradaraan Hadrah Daeng Ratu kelewat sering main teasing jumpscare dan suara latar layaknya sinetron. Film ini awalnya lemah, tapi jadi hidup saat Daanish kerasukan. Potensi ada, eksekusi masih banyak PR.
Song Hye-kyo tampil luwes dengan kematangan akting yang apik, bersanding serasi bersama Jeon Yeo-been sebagai penyeimbang. Sayangnya, premis feminis nan sensasional ini terganjal alur gamang dan eksperimen sutradara yang sok edgy. Sudut pengambilan gambar yang mengganggu serta narasi rumit membuat penonton harus berjuang keras agar tidak tersesat dalam kegelapan ceritanya.
Kuasa Gelap menawarkan penyegaran dalam horor Indonesia lewat eksorsisme dan sentuhan okultisme lokal, tapi gagal menjawab rasa penasaran soal praktik Gereja Katolik. Dialog kaku, set kurang mendukung, efek poltergeist nanggung, serta tata suara berlebihan. Untungnya, duet Jerome Kurnia dan Lukman Sardi cukup menarik. Potensi semesta baru, tapi naskah perlu banyak polesan.
Awalnya skeptis karena tema perselingkuhan dan drama rumah tangga yang terasa klise, tapi The Architecture of Love justru tampil sederhana dan emosional. Chemistry Putri Marino dan Nicholas Saputra jadi pusat kekuatan, dialog puitis tidak terasa norak, visual New York digarap apik. Sayangnya, ending-nya terlalu sederhana dan kurang memuaskan.