Ariel NOAH sukses membawa ruh Dilan lewat dialek dan humor Sunda yang sangat natural, melampaui versi sebelumnya. Naskahnya manis, tapi jurang usia jadi masalah besar. Ariel, Niken Anjani, hingga Raline Shah terlalu senior untuk karakter mahasiswa. Bedak tebal pun gagal menutupi kerutan dan aura bapak-bapak yang tak nyambung dengan latar mahasiswa ITB 1997.
The Devil Wears Prada 2 bukan sekadar reuni, tapi jadi contoh sekuel yang matang, penuh passion, dengan pengembangan karakter manusiawi dan relevan. Frankel dan McKenna sukses membawa vibe baru tanpa kehilangan glamor dunia fashion. Kuartet Streep, Hathaway, Blunt, Tucci tampil solid, bahkan ekspektasi tinggi penonton pun terlampaui.
Songko punya niat baik mengangkat folklor Sulawesi Utara, tapi eksekusi Gerald Mamahit terlalu santun, bertele-tele, dan main aman. Jumpscare nanggung, misteri bocor sejak awal, dan penyelesaian konflik kurang greget. Sinematografi dan desain produksi patut diapresiasi, tapi naskah dan penggarapan horornya masih butuh banyak perbaikan.
Lee Cronin’s The Mummy terbilang kreatif dan inklusif, namun kurang spesial bagi penggemar saga aslinya. Unsur supranatural dan body horror-nya justru membuat film ini terasa makin jauh dari citra waralaba. Sayangnya, Cronin terlalu memaksakan kehendak menggunakan nama "The Mummy" padahal jiwanya hilang. Segalanya sudah kepalang jadi bubur karena naskahnya kurang bisa mengeksekusi ide sendiri.
Project Hail Mary adalah paket komplet yang melampaui The Martian. Meski narasinya maju-mundur, duet Lord-Miller serta akting apik Ryan Gosling sukses membungkus drama personal epik ini. Visual cantik Greig Fraser dan scoring Daniel Pemberton menyempurnakan perjalanan sunyi di ruang hampa. Sulit menampik, inilah salah satu film terbaik 2026 yang menyenangkan secara sinematik maupun emosi.
Ambisi setinggi langit Pelangi di Mars sayangnya hampa dan kurang berbobot. Isinya didominasi yapping berisik robot rongsokan dengan pola kalimat kaku layaknya AI. Visualnya memang mengejutkan, tapi jiwanya luput dan tidak terasa humanis. Bakat animator lokal sebenarnya sudah berkelas dunia, namun film ini gagal memberikan nyawa yang mampu menggetarkan emosi penonton secara mendalam.
Sulit menyebut Danur: The Last Chapter sebagai penutup klimaks. Naskahnya stagnan, cuma modal jumpscare dengan logika Risa yang tetap amatiran hadapi dedemit. Visualnya memang lebih estetik, tapi tampilan Peter cs dengan wig kuning ganjil itu hasil kepepet. Prilly pun terkesan pasif. Film ini sekadar persembahan buat fans loyal, bukan untuk penonton kritis.
Efisien, efektif, dan sangat fokus, It Was Just an Accident menyajikan cerita sederhana namun padat lewat dialog kasual dan dinamika kelompok yang intens. Konflik, emosi, dan trauma tersaji tanpa efek berlebihan, diperkuat akting solid terutama dalam adegan one take. Film ini pantas diganjar Palme d'Or dan layak jadi kandidat Oscar.
Pembantaian Dukun Santet mengecewakan. Naskahnya berantakan, hambar, dan cuma mengandalkan jumpscare tumpul. Plot twist-nya gampang ditebak, visualnya kuning bikin frustrasi, dan akting pemainnya macam amatiran. Sutradara ikut tersesat dalam cerita kasar ini. Kontradiktif soal sejarah kelam Banyuwangi dan cuma berorientasi pada profit tanpa ketulusan menggarap tragedi yang sebenarnya menarik dan penting.
Luna Maya makin luwes jadi Suzzanna, dan film ketiga franchise ini lebih matang dari dua sebelumnya. Naskah Jujur Prananto terasa pas, suasana klasik horor Suzzanna dapet, visualnya juga nyaman dilihat. Sayangnya, naskah masih kepanjangan, misterinya mudah ditebak, dan eksplorasi dunia santet kurang dalam. Tapi ini reboot paling solid sejauh ini.