Setelah seorang pasien terapisnya menghilang ke dalam dimensi di luar kenyataan, sang terapis harus memberanikan diri menjelajahi dunia yang tak dikenal demi menyelamatkannya.
sebagai Clark
sebagai ...
sebagai Phil's Child
sebagai Rival Customer
sebagai ...
sebagai Kat
sebagai Barbara
sebagai ...
sebagai Phil's Wife
sebagai Meterman
sebagai Robin
sebagai ...
sebagai Young Mary
sebagai Bobby
sebagai Nora
sebagai ...
sebagai Mary
sebagai Party Attendant Daughter
sebagai Party Attendant Mother
sebagai Big Wayne
BACKROOMS memanfaatkan dinding kuning kusam, lampu neon berdengung, dan lorong tak berujung buat atmosfer aneh nan cemas tanpa perlu jumpscare. Temponya lambat, narasi abstrak, pengembangan karakter kurang, tapi sensasi ketakutan psikologisnya buat napas tertahan. Bukan horor untuk semua orang, tapi tetap mimpi buruk yang sulit dilupakan.
Backrooms seperti pengalaman MRI: menegangkan, penuh tekanan, tapi hasil akhirnya samar dan tak memuaskan semua orang. Naskah Soodik terasa labirin, kadang dipaksakan, namun atmosfer, desain produksi, sorotan kamera, dan musik patut diacungi jempol. Akting Ejiofor dan Reinsve solid, tapi penonton tetap pulang dengan banyak pertanyaan menggantung.
Backrooms menawarkan horor sci-fi dengan visualisasi psikologis yang kuat dan naskah brilian, meski narasi dan konsepnya terasa absurd bagi penonton awam. Pendekatan estetik dan simbolisnya lebih cocok untuk penikmat film art house. Capaian komersialnya menandai perubahan selera penonton yang mulai jenuh dengan tontonan mainstream.
Adaptasi Backrooms oleh Kane Parsons setia pada nuansa horor analog dan atmosfer ruang kosong yang mencekam, dengan naskah sederhana yang membiarkan ketegangan tumbuh perlahan. Duet Chiwetel Eijofor dan Renate Reinsve jadi nyawa film, didukung jajaran cast solid. Ditambah visual ciamik dan desain suara sunyi, adanya radiodengan berbagai bahasa, membuat Backrooms jadi sajian yang super mencekam.
Backrooms bukan sekadar horor monster atau kejar-kejaran, melainkan eksplorasi ketakutan psikologis dan rasa sesak lewat ruang liminal yang visualnya bikin gelisah. Renate Reinsve jadi sorotan utama berkat akting emosionalnya, sementara atmosfer film ini meresahkan tanpa harus mengandalkan jumpscare. Bukan creepypasta menakutkan tradisional, tapi horornya tetap membekas.
Belum ada ulasan dari pengguna.