Himawan Pratista's Portrait

Himawan Pratista

Informasi tentang kritikus ini belum tersedia.

Publikasi

Montase Film

The Sheep Detectives memadukan misteri whodunit dengan humor segar lewat karakter domba cerdas dan visual efek mengesankan. Naskahnya brilian, penuh kehangatan dan pesan humanis, didukung kasting dan voice cast solid. Sajian rural Inggris menambah kenyamanan. Sayangnya, tontonan sempurna bagi keluarga ini hanya tayang di bioskop terbatas.

Bermodal premis segar penjinakan bom dan perampokan, Fuze langsung to the point dengan twist intens yang sulit diantisipasi. Plotnya penuh kejutan dan bikin penasaran sampai klimaks meski temponya sering membingungkan. Tanpa kedalaman kisah, ini sekadar glorifikasi aksi kriminal sebagai hiburan semata layaknya seri Ocean, tanpa ada nilai luhur apa pun.

Salmokji: Whispering Water hadir dengan formula horor supernatural yang sudah sering dipakai, plotnya intens namun mudah ditebak, teror tak pernah benar-benar baru. Minim eksposisi soal mitos lokal dan latar angker membuat terornya terasa hambar, karakter-karakternya pun kehilangan makna. Akhirnya, hanya jadi horor biasa tanpa sentuhan humanis atau motivasi kuat.

The Devil Wears Prada 2 tampil beda, tak sekadar sekuel numpang lewat. Fokus kisah beralih dari fesyen ke isu PHK, digitalisasi, dan AI, menjadikannya relevan dengan zaman sekarang. Parade bintang dan cameo jadi daya tarik utama, sementara editing tetap jadi kekuatan. Cerita lebih dewasa, berani, dan menawarkan solusi konvensional di tengah era digital.

Michael hanya menarik dari sisi musik dan lagu, tapi kisahnya dangkal, plotnya melompat-lompat, karakterisasi lemah, dan chemistry antarkarakter nyaris tak terasa. Jaafar Jackson mirip secara visual tapi performanya biasa saja. Film ini terasa seperti montage panjang tanpa kedalaman. Bagi fans, tontonan wajib, tapi untuk genre biopic, ini salah satu yang terburuk.

The Drama bukan tontonan mudah, plotnya brutal penuh kilas-balik hingga sering bikin kehilangan pijakan, tapi editing dan tempo plotnya juara. Penampilan Pattinson dan Zendaya jadi kekuatan utama, chemistry mereka naik turun terasa manusiawi. Kisahnya melelahkan tapi ending-nya menyentuh, menegaskan relasi asmara ditentukan hal personal tiap pasangan.

Horor modern berjiwa klasik, The Mummy garapan Lee Cronin ini mengingatkan era keemasan horor 70-an lewat plot, tone, dan teror misterius yang dibangun perlahan. Kekuatan akting para pemain, estetika body horror, serta absennya solusi religius membuat film ini terasa segar, komplit, dan jadi salah satu horor terbaik era kini.

Joko Anwar merespons politik absurd negeri ini melalui horor-komedi yang meledak-ledak. Plotnya spekulatif, dibalut visual ultra-brutal dan estetika kelam yang solid. Dialog sentilan dan sumpah serampah bersliweran tanpa henti. Meski memuaskan fans, kebrutalan ekstrem ini bukan tontonan semua orang. Sebuah pilihan provokatif yang melawan api dengan api, namun tak sepatutnya dibanggakan.

Ready or Not 2 punya potensi aksi besar, tapi eksekusinya gagal. Intensitas ketegangan dan horor jauh mengendur dibanding film pertama. Plot mudah ditebak, aksi kucing-kucingannya repetitif tanpa ancaman berarti. Meski naskah mengecewakan, cukup memuaskan melihat duet Grace dan Faith menghabisi elit global pemuja setan tak beradab di tengah situasi dunia serba absurd.

Project Hail Mary menawarkan kisah penyelamatan umat manusia yang tidak seintens Sunshine atau Interstellar, tapi menonjol lewat struktur cerita kilas balik dan relasi hangat Grace-Rocky yang menghibur. Visual dan aksi standar, montage lagu-lagu populer justru lebih berkesan. Bukan terbaik di genre-nya, tapi memberi tamparan soal nilai kehidupan dengan cara elegan.

Terakhir Dilihat