Semua Akan Baik-Baik Saja menawarkan drama keluarga urban yang kompleks dengan ensemble cast mewah, akting Reza Rahadian dan Christine Hakim solid, serta visual realistis kehidupan pinggiran. Sayangnya, editing dan transisi terasa terburu-buru, beberapa karakter kurang pas, dan ending kurang elegan. Tetap jadi salah satu drama keluarga terbaik tahun ini.
The Sheep Detectives memadukan misteri whodunit dengan humor segar lewat karakter domba cerdas dan visual efek mengesankan. Naskahnya brilian, penuh kehangatan dan pesan humanis, didukung kasting dan voice cast solid. Sajian rural Inggris menambah kenyamanan. Sayangnya, tontonan sempurna bagi keluarga ini hanya tayang di bioskop terbatas.
Bermodal premis segar penjinakan bom dan perampokan, Fuze langsung to the point dengan twist intens yang sulit diantisipasi. Plotnya penuh kejutan dan bikin penasaran sampai klimaks meski temponya sering membingungkan. Tanpa kedalaman kisah, ini sekadar glorifikasi aksi kriminal sebagai hiburan semata layaknya seri Ocean, tanpa ada nilai luhur apa pun.
Salmokji: Whispering Water hadir dengan formula horor supernatural yang sudah sering dipakai, plotnya intens namun mudah ditebak, teror tak pernah benar-benar baru. Minim eksposisi soal mitos lokal dan latar angker membuat terornya terasa hambar, karakter-karakternya pun kehilangan makna. Akhirnya, hanya jadi horor biasa tanpa sentuhan humanis atau motivasi kuat.
Ikatan Darah suguhkan parade aksi brutal, karakter antagonis eksentrik, dan visual kinetik yang imersif, meski plotnya tipis dan logika cerita kadang absurd. Intensitas babak akhir menurun, tapi aksi berdarah-darah tetap jadi magnet utama. Bukan revolusioner, namun layak ditonton bagi pecinta aksi bela diri lokal.
The Devil Wears Prada 2 tampil beda, tak sekadar sekuel numpang lewat. Fokus kisah beralih dari fesyen ke isu PHK, digitalisasi, dan AI, menjadikannya relevan dengan zaman sekarang. Parade bintang dan cameo jadi daya tarik utama, sementara editing tetap jadi kekuatan. Cerita lebih dewasa, berani, dan menawarkan solusi konvensional di tengah era digital.
Para Perasuk tampil nyeleneh nan absurd, namun tak setajam Penyalin Cahaya. Narasinya melelahkan dengan konflik yang kurang menggigit dan tidak cukup menampar. Meski sinematik serta scoring-nya unik, film ini terjebak stagnasi orbit festival oriented. Bukan karya terbaik Wregas, tapi eksplorasi visualnya yang random tetap berpotensi kuat tembus shortlist FFI 2026.
Michael hanya menarik dari sisi musik dan lagu, tapi kisahnya dangkal, plotnya melompat-lompat, karakterisasi lemah, dan chemistry antarkarakter nyaris tak terasa. Jaafar Jackson mirip secara visual tapi performanya biasa saja. Film ini terasa seperti montage panjang tanpa kedalaman. Bagi fans, tontonan wajib, tapi untuk genre biopic, ini salah satu yang terburuk.
The Drama bukan tontonan mudah, plotnya brutal penuh kilas-balik hingga sering bikin kehilangan pijakan, tapi editing dan tempo plotnya juara. Penampilan Pattinson dan Zendaya jadi kekuatan utama, chemistry mereka naik turun terasa manusiawi. Kisahnya melelahkan tapi ending-nya menyentuh, menegaskan relasi asmara ditentukan hal personal tiap pasangan.
Horor modern berjiwa klasik, The Mummy garapan Lee Cronin ini mengingatkan era keemasan horor 70-an lewat plot, tone, dan teror misterius yang dibangun perlahan. Kekuatan akting para pemain, estetika body horror, serta absennya solusi religius membuat film ini terasa segar, komplit, dan jadi salah satu horor terbaik era kini.