Setelah putrinya diculik oleh jaringan kriminal dan tidak mendapat bantuan dari polisi yang korup, Wang Wei (Xie Miao) memutuskan mencari anaknya sendiri. Satu-satunya sekutunya adalah Navin (Joe Taslim), seorang jurnalis gigih yang istrinya juga menghilang secara misterius. Didorong oleh dendam yang membara, kedua sosok yang tak terduga ini bersatu dan bertarung habis-habisan melawan para penculik dalam pertarungan seni bela diri penuh ledakan.
sebagai ...
sebagai ...
sebagai ...
sebagai ...
sebagai ...
sebagai Navin
sebagai ...
sebagai ...
sebagai ...
sebagai Rainy
sebagai ...
sebagai Wang Wei
sebagai ...
Keunggulan terbesarnya ada pada aksi luar biasa: kamera steady panjang, tanpa potongan berlebihan, bikin setiap pukulan, tendangan, benturan terasa nyata. Kejar-kejaran brutal dan klimaks kantor polisi jadi mahakarya koreografi penuh darah, keringat, emosi. Plot memang linier dan tipis, tetapi adrenalin visualnya brilian. Wajib ditonton di bioskop, terutama penggemar The Raid atau John Wick.
The Furious membuktikan kekuatan koreografi fisik dan stunt praktikal jauh mengalahkan efek CGI. Meski plotnya sederhana, klise, serta antagonisnya minim pendalaman, sajian aksi martial arts-nya tampil murni, brutal, dan presisi. Hasil akhirnya adalah sebuah mahakarya laga klasik modern yang layak dinobatkan sebagai salah satu film martial arts terbaik beberapa tahun terakhir.
The Furious langsung tancap gas sejak awal lewat aksi brutal tanpa henti yang cepat, kasar, dan berdarah-darah. Lupakan logika ketahanan fisik karakternya, motivasi kuat mereka membuat laga nekat ini terasa urgen. Klimaks edan di kantor polisi menyajikan kepuasan absolut. Inilah jawaban memuaskan bagi pencinta pertarungan nonstop tanpa kompromi.
The Furious menghadirkan pertarungan tanpa henti lewat koreografi kelas dunia yang matang. Ceritanya memang sederhana, tapi pas sebagai pemicu konfrontasi. Kamera yang tenang membuat duel Mo Tse, Joe Taslim, hingga Yayan Ruhian terlihat jelas dan brutal. Bagi penggemar laga murni, sajian aksi berintensitas tinggi ini sudah sangat memuaskan.
The Furious menyajikan aksi brutal dan koreografi pertarungan yang hidup, didukung penampilan ekspresif Xie Miao dan sinergi emosional Joe Taslim yang menonjol. Namun, subplot keluarga Paklong mentah, antagonis klise, serta kritik sosial yang kaku jadi titik lemah. Tetap, film ini jadi tontonan laga efisien dengan standar tinggi.
Film ini menghadirkan cerita sedih tentang seorang pria yang berjuang menyelamatkan putrinya yang diculik sindikat. Kerja samanya dengan seorang ayah korban penculikan lain menambah dinamika. Sayangnya, semua ini tidak mampu menyelamatkan film dari kurangnya kedalaman cerita.
Menonton The Furious memberikan sensasi yang luar biasa, setara dengan pengalaman menonton The Raid: Redemption dan John Wick Chapter 4. Film ini tidak hanya menampilkan adegan pertarungan terbaik, tetapi juga mendorong batas kemampuan manusia di layar. Setiap karakter digambarkan sangat tangguh, bukan sekadar penjahat yang mudah dikalahkan, sehingga intensitas film terus terjaga. Koreografi pertarungannya memukau, gerakannya cepat namun tetap jelas, penuh kreativitas dan keindahan. Menyaksikan aksi mereka melawan banyak musuh sekaligus terasa nyata dan menegangkan. Walau ada sedikit kekurangan, itu tidak mengurangi kepuasan setelah film selesai. Film ini jadi favoritku sepanjang tahun ini.
Sebagian besar film ini dipenuhi dengan absurditas dan koreografi pertarungan berdarah yang penuh gaya, menjadikannya tontonan yang sangat menghibur. Aksi-aksinya benar-benar luar akal, bahkan bisa dibilang termasuk yang terbaik di dekade ini. Sangat layak untuk disaksikan di bioskop.
Film ini penuh adegan aksi pertarungan yang nyaris tanpa henti, sampai terasa berlebihan dan agak melelahkan. Durasi film terasa terlalu panjang sekitar setengah jam. Dialognya terasa kaku dan kadang mirip seperti film yang di-dubbing. Meski masih bisa dinikmati jika suka genre ini, film ini hanya cukup sebatas jadi hiburan tanpa menjadi sesuatu yang istimewa.