Nilai Kritikus
80 /100
5 Kritikus

Distribusi Nilai

0%
1
0%
2
0%
3
0%
4
0%
5
0%
6
20%
7
40%
8
40%
9
0%
10

Ulasan Kritikus

Keunggulan terbesarnya ada pada aksi luar biasa: kamera steady panjang, tanpa potongan berlebihan, bikin setiap pukulan, tendangan, benturan terasa nyata. Kejar-kejaran brutal dan klimaks kantor polisi jadi mahakarya koreografi penuh darah, keringat, emosi. Plot memang linier dan tipis, tetapi adrenalin visualnya brilian. Wajib ditonton di bioskop, terutama penggemar The Raid atau John Wick.

The Furious membuktikan kekuatan koreografi fisik dan stunt praktikal jauh mengalahkan efek CGI. Meski plotnya sederhana, klise, serta antagonisnya minim pendalaman, sajian aksi martial arts-nya tampil murni, brutal, dan presisi. Hasil akhirnya adalah sebuah mahakarya laga klasik modern yang layak dinobatkan sebagai salah satu film martial arts terbaik beberapa tahun terakhir.

The Furious langsung tancap gas sejak awal lewat aksi brutal tanpa henti yang cepat, kasar, dan berdarah-darah. Lupakan logika ketahanan fisik karakternya, motivasi kuat mereka membuat laga nekat ini terasa urgen. Klimaks edan di kantor polisi menyajikan kepuasan absolut. Inilah jawaban memuaskan bagi pencinta pertarungan nonstop tanpa kompromi.

The Furious menghadirkan pertarungan tanpa henti lewat koreografi kelas dunia yang matang. Ceritanya memang sederhana, tapi pas sebagai pemicu konfrontasi. Kamera yang tenang membuat duel Mo Tse, Joe Taslim, hingga Yayan Ruhian terlihat jelas dan brutal. Bagi penggemar laga murni, sajian aksi berintensitas tinggi ini sudah sangat memuaskan.

The Furious menyajikan aksi brutal dan koreografi pertarungan yang hidup, didukung penampilan ekspresif Xie Miao dan sinergi emosional Joe Taslim yang menonjol. Namun, subplot keluarga Paklong mentah, antagonis klise, serta kritik sosial yang kaku jadi titik lemah. Tetap, film ini jadi tontonan laga efisien dengan standar tinggi.

Showing 1 to 5 of 5 entries