Rasanya seperti tamparan keras bagi keluarga masa kini: narasi jujur, rapi, terukur, nyaris tak bercela, dengan hukum kausalitas yang selalu menemukan resolusi. Dialog anak SMP memang agak kelewat matang, visual kilas balik kadang terlalu bersih, tapi tak jadi ganjalan besar. Akting Ringgo-Bima ciamik dan OST indie mengena. Salah satu karya Gina S. Noer paling berkesan sejauh ini.
Plotnya klise, hanya muter-muter perkara dukun dan kesurupan dengan logika cerita yang hancur lebur. Editing berantakan, jumpscare murahan, dan scoring dar-der-dor bikin pening. Kehadiran tiga ratu horor tanah air terbuang sia-sia dalam narasi absurd yang tidak menawarkan kebaruan sama sekali. Nihil pesan moral.
Semua Akan Baik-Baik Saja menawarkan drama keluarga urban yang kompleks dengan ensemble cast mewah, akting Reza Rahadian dan Christine Hakim solid, serta visual realistis kehidupan pinggiran. Sayangnya, editing dan transisi terasa terburu-buru, beberapa karakter kurang pas, dan ending kurang elegan. Tetap jadi salah satu drama keluarga terbaik tahun ini.
Ikatan Darah suguhkan parade aksi brutal, karakter antagonis eksentrik, dan visual kinetik yang imersif, meski plotnya tipis dan logika cerita kadang absurd. Intensitas babak akhir menurun, tapi aksi berdarah-darah tetap jadi magnet utama. Bukan revolusioner, namun layak ditonton bagi pecinta aksi bela diri lokal.
Para Perasuk tampil nyeleneh nan absurd, namun tak setajam Penyalin Cahaya. Narasinya melelahkan dengan konflik yang kurang menggigit dan tidak cukup menampar. Meski sinematik serta scoring-nya unik, film ini terjebak stagnasi orbit festival oriented. Bukan karya terbaik Wregas, tapi eksplorasi visualnya yang random tetap berpotensi kuat tembus shortlist FFI 2026.
Tiba-tiba Setan menawarkan cerita ringan dengan humor receh yang kelewat sering, plot dan logika yang serba instan, serta pengenalan karakter yang terburu-buru. Sinematografi oke tapi aman-aman saja, jumpscare dan scoring kurang nendang. Hanya Oki Rengga dan Lolox yang sedikit menyelamatkan film horor komedi yang sebenarnya anyep ini.
Na Willa sukses menggambarkan dunia anak-anak lewat sudut pandang Willa yang polos dan penuh imajinasi, didukung akting natural Luisa Adreena serta visual 1960-an yang hidup. Namun, narasi kadang terlalu didikte perspektif Willa, beberapa isu dewasa terasa menggantung, dan konflik rasisme kurang kuat. Tetap, film ini cukup utuh sebagai tontonan keluarga.
Tunggu Aku Sukses Nanti menawarkan potret keluarga yang sangat relate dan emosional, naskah runut, pengembangan karakter Arga terasa hidup, serta akting para pemain solid. Kekurangan pada penjelasan silsilah keluarga membuat beberapa relasi kurang jelas. Meski begitu, film ini tetap recommended sebagai tontonan Lebaran yang hangat dan menyentuh.
Thriller ini nekat keluar pakem lewat struktur non-linear dan satir politik tajam dalam ruang vertikal sesak. Sayang, eksekusi motif antagonis kabur dan logika ceritanya bolong di sana-sini. Meski atmosfer klaustrofobiknya dapet, ending-nya justru ambil jalan mudah yang kurang memuaskan. Eksplorasi berisiko yang tetap patut diapresiasi sebagai opsi segar di tengah gempuran horor supranatural.
Balas Budi terjebak naskah mengada-ada tanpa logika akal sehat. Alurnya mirip sinetron dengan plot hole bertebaran serta kebetulan yang memaksa. Teknik breaking the fourth wall pun terasa flat. Ceritanya absurd, menghina intelektualitas penonton, dan jauh dari nalar. Twist akhirnya justru membenamkan kualitas film, apalagi jika ditilik dari sisi moral.