BACKROOMS memanfaatkan dinding kuning kusam, lampu neon berdengung, dan lorong tak berujung buat atmosfer aneh nan cemas tanpa perlu jumpscare. Temponya lambat, narasi abstrak, pengembangan karakter kurang, tapi sensasi ketakutan psikologisnya buat napas tertahan. Bukan horor untuk semua orang, tapi tetap mimpi buruk yang sulit dilupakan.
GARUDA DI DADAKU menyajikan arc story Putra si below zero to hero dan Gaga sebagai magnet utama. Meski plotnya mudah ditebak, perpaduan karakter pendukungnya pas membuat cerita hidup. Gerakan sepakbolanya energik hingga menyuguhkan visual feast di akhir. Sayang, beberapa konsep menarik kurang dieksplorasi dan terkesan tempelan semata.
NA WILLA menyajikan hiburan kasual dengan tone hangat dan cerita sederhana untuk anak balita, penuh pesan moral dan ilmu parenting tanpa menggurui. Setting 1960-an menghadirkan nostalgia bagi orangtua. Namun, durasi terlalu panjang bikin anak-anak bosan, plot dangkal, minim konflik, beberapa karakter terasa mubazir, dan dialog kurang luwes.
Menghadirkan konflik keluarga yang relate, akting Meriam Bellina dan Nadya Arina natural banget, figuran nggak sekadar tempelan, scoring juara sampai soundtrack bikin mewek. Tapi, tempo film cenderung lambat dan durasi hampir dua jam bisa bikin gampang bosan, apalagi yang cari komedi, horor, atau aksi.
The Shadow's Edge sangat layak ditonton berkat aksi pertarungan autentik tanpa pemeran pengganti dari Jackie Chan dan Jun SEVENTEEN, dinamika peran yang intens bersama Tony Leung dan Ci Sha, serta sinematografi yang memanjakan mata.