Janur Ireng

Janur Ireng

Nilai Kritikus
69 /100
5 Kritikus
Nilai Pengguna
7.8 /10
28 Pengguna
Rating Kamu
Beri Nilai

Ikhtisar

Sabdo (Marthino Lio) dan Intan (Ratu Rafa) adalah dua orang yang dilarang bersatu karena diyakini, jika mereka bersama, akan memiliki kekuatan luar biasa yang tak terkalahkan. Keyakinan ini membuat paman mereka, Arjo Kuncoro (Tora Sudiro), berambisi menguasai keduanya. Sabdo dan Intan pun dibawa ke rumah mewah keluarga Kuncoro dengan janji kekayaan. Namun, apa yang dijanjikan justru menjadi awal bencana bagi mereka. Satu-satunya harapan untuk menyelamatkan diri hanyalah Janur Ireng, santet paling mematikan di tanah Jawa.

Sutradara

Kimo Stamboel

Link Nonton

Loading
Final Trailer - Janur Ireng Sewu Dino The Prequel
Final Trailer - Janur Ireng Sewu Dino The Prequel

02:13

17 Desember 2025

Janur Ireng - Official Trailer
Janur Ireng - Official Trailer

01:48

29 November 2025

Karina Suwandhi

sebagai Karsa

Aqi Singgih

sebagai Codro

Safaringga

sebagai Lantip

Pritt Timothy

sebagai Tanin

Nyimas Ratu Rafa

sebagai Intan

Agra Piliang

sebagai Bayu Suseno

Marthino Lio

sebagai Sabdo

Masayu Anastasia

sebagai Lasmini

Sapta Taliwang

sebagai Umar

Aulia Raditya

sebagai Isah

Pipien Putri

sebagai Tabib Gayatri

Karina Ranau

sebagai Lydia

Faradina Mufti

sebagai Gayatri

Putri Permata

sebagai Lina

Onkar Sadawira

sebagai Mustakim

Sri Yatun

sebagai Dar

Tora Sudiro

sebagai Arjo Kuncoro

Adinda Vega

sebagai Suci

Anneu A Putri

sebagai Tri

Janur Ireng tampil solid lewat akting meyakinkan Tora Sudiro dan kebrutalan khas Kimo Stamboel yang memperkuat atmosfer kelam. Sayangnya, potensi lore Trah Pitu belum tergarap maksimal karena keterbatasan durasi. Film ini pun hanya terasa sebagai gerbang pembuka yang menjanjikan, namun menyisakan rasa penasaran yang belum sepenuhnya terbayar bagi penonton.

Janur Ireng: Sewu Dino The Prequel menawarkan naskah dan eksekusi yang lebih berani dari film sebelumnya, namun gagal membangun keterkaitan yang bermakna dengan semesta utama Sewu Dino, dan justru terasa seperti spin-off dengan fokus cerita yang kurang kuat.

Janur Ireng unggul sebagai horor tragedi dengan performa akting solid, atmosfer gore yang bermakna, dan kedalaman budaya Jawa, meskipun memiliki ritme awal yang lambat serta intensitas kekerasan yang terlalu ekstrem bagi sebagian penonton.

Kimo Stamboel fokus pada gore intens dan konflik intrik trah pitu, bukan atmosfer horor, membuat Janur Ireng lebih menonjolkan kekerasan grafis daripada ketegangan mencekam, sementara misteri keluarga tetap menarik meski elemen horor kurang membuat bergidik.

Janur Ireng tampil lebih brutal dan gore daripada Sewu Dino, menggunakan kekerasan bukan sekadar sensasi tapi sebagai kritik tradisi, didukung cerita membumi, akting solid, atmosfer mencekam, dan teknis kuat, membuatnya prekuel horor yang berani dan meninggalkan kesan mendalam.

Terakhir Dilihat