Milla (Marissa Anita) tampak menjalani hidup mewah dan tenang sebagai istri Jonathan (Dion Wiyoko), seorang pengusaha sukses. Namun, tanpa sebab yang jelas, Milla mulai mengalami gangguan fisik—berawal dari luka di tumit dan kemudian muncul pula di wajahnya—yang disertai gangguan psikis yang semakin mengganggu aktivitas sehari-harinya. Rasa sakit yang dirasakannya bukan hanya berasal dari tubuh, tetapi juga dari tekanan emosional akibat mertuanya, Liliana, sosok otoriter yang sangat dipuja oleh Jonathan. Ketika pembantu yang telah bersamanya sejak kecil, Irah (Sari Koeswoyo), secara tak sengaja menyebut nama Grace, Milla mulai mempertanyakan identitas dirinya yang selama ini ia yakini. Rahasia kelam dari masa lalunya pun perlahan terungkap, membawa Milla pada konfrontasi dengan masa lalu yang selama ini tersembunyi. Film ini mengangkat perjalanan batin seorang wanita dalam menghadapi trauma dan tekanan keluarga yang kompleks, menggali lapisan-lapisan identitas dan rahasia yang membentuk kehidupannya.
sebagai Nugros
sebagai dr Garry
Maya Christina Worotikan Hasan
sebagai Novi
sebagai Yuli
sebagai Grace kecil
sebagai Irah
sebagai Liliana
sebagai Leni
sebagai Grace kecil
sebagai Gunawan
sebagai Erika
sebagai Hatta
sebagai Erika kecil
sebagai Ny Nugros
sebagai Jonathan
sebagai Milla
sebagai Royhan
sebagai Angel
A Normal Woman tampil elegan dengan visual puitis dan akting solid, terutama Marissa Anita yang memukau sebagai Milla. Isu perempuan modern dan tekanan sosial digarap berani, meski twist-nya terasa absurd dan beberapa karakter serta plot hole terabaikan. Endingnya kurang memuaskan, tapi film ini tetap layak ditonton buat yang suka drama psikologis.
Kendati didukung visual estetik dan dominasi akting Widyawati yang memukau, A Normal Woman berakhir menjadi tontonan hampa yang gagal menggugah emosi akibat penuturan kaku layaknya tugas kuliah serta performa pemeran utama yang tidak seimbang.
Belum ada ulasan dari pengguna.