Ulasan Kritik

Skenario matang drama keluarga ini sukses memeras air mata lewat pergolakan batin yang dilematis. Meski terganggu scoring musik berlebihan layaknya jumpscare dan dialog kata mutiara yang bikin bergidik, chemistry aktornya tetap meyakinkan. Inilah alternatif mumpuni sekaligus "kambing hitam" di tengah gempuran film horor dengan racikan formula yang matang.

Sijjin lebih baik dibanding versi aslinya. Lele Laila lihai memoles narasi kasar dan menambal plot hole Siccin sehingga lebih logis. Meski lokalisasi Pandeglang unik, eksekusinya terasa sekadar memindahkan cerita mentah-mentah dan bermain aman soal teror. Indonesia terbukti lebih lihai menggarap horor, namun Sijjin sekadar menggarap ulang alih-alih mengadaptasi secara kreatif.

Menonton Siksa Neraka rasanya bagai disiksa. Eksekusinya kacau, ngalor-ngidul, dan alurnya tak logis akibat kurang riset. Cuma modal adegan sadis tanpa esensi emosi, sementara kisah dunianya bertele-tele. Hasilnya cuma tontonan receh pemburu cuan yang tak peka masalah sosial. Martabat kualitas sinema Indonesia dalam film ini cuma halusinasi semata.

Kereta Berdarah ibarat lokomotif uap zaman purba dibanding Train to Busan. CGI burung dan panorama tampak kasar, ditambah naskah kurang masak yang menabrak logika durasi serta teknologi. Beruntung, visual khas Rizal Mantovani, riasan dedemit mumpuni, dan jumpscare menghibur tetap mampu melepas dahaga horor meski terhambat kerikil-kerikil cerita yang mengganggu laju kereta.

Pemukiman Setan lebih cocok disebut thriller-action penuh gore ketimbang horor, dengan narasi berantakan dan terlalu ugal-ugalan dalam aksi serta CGI. Visual, produksi, dan scoring memang mumpuni, tapi jalan ceritanya membingungkan dan melelahkan. Film ini hiburan bagi penikmat laga, tapi bukan untuk pencari kengerian horor sejati.

Agak Laen hadir dengan lelucon keseharian yang matang, rapi, dan mudah dicerna tanpa slapstick berlebihan. Chemistry kuartet pemeran utama kuat, komedi dan horor berpadu apik, serta drama dieksekusi pas. Sinematografi, tata produksi, dan unsur inklusi patut diapresiasi. Agak Laen memang benar-benar agak lain, sukses menghibur dan layak ditunggu karya selanjutnya.

Joko Anwar bukan sekadar menyajikan imaji liar, tapi benar-benar menyiksa psikis penonton lewat horor psikologis yang ganjil. Naskahnya kompleks nan menjelimet bagai puzzle dengan dialog menguji nalar. Didukung akting teatrikal kelas kakap dan scoring yang mengganggu, sajian mantap ini membuktikan kapasitas Joko Anwar memang di atas rata-rata sutradara Indonesia.

Badarawuhi di Desa Penari gagal memenuhi harapan, tidak menawarkan cerita baru yang esensial dan lebih cocok disebut reboot daripada prekuel. Naskahnya kosong, karakter tidak berkembang, banyak plot kontradiktif, riset budaya minim, dan akting standar. Film ini dinilai sekadar eksploitasi semesta KKN tanpa sentuhan artistik berarti.

Awalnya skeptis karena tema perselingkuhan dan drama rumah tangga yang terasa klise, tapi The Architecture of Love justru tampil sederhana dan emosional. Chemistry Putri Marino dan Nicholas Saputra jadi pusat kekuatan, dialog puitis tidak terasa norak, visual New York digarap apik. Sayangnya, ending-nya terlalu sederhana dan kurang memuaskan.

Kuasa Gelap menawarkan penyegaran dalam horor Indonesia lewat eksorsisme dan sentuhan okultisme lokal, tapi gagal menjawab rasa penasaran soal praktik Gereja Katolik. Dialog kaku, set kurang mendukung, efek poltergeist nanggung, serta tata suara berlebihan. Untungnya, duet Jerome Kurnia dan Lukman Sardi cukup menarik. Potensi semesta baru, tapi naskah perlu banyak polesan.

Showing 41 to 50 of 58 entries

Terakhir Dilihat