Perang Kota bukan heroisme pasaran, melainkan potret humanis yang intim dan segar. Mouly Surya menyoroti sisi kelam pejuang dari urusan perut hingga urusan ranjang. Meski pacing sesekali lambat, visual 4:3 yang mewah dan akting matang pemerannya bikin film ini tetap menawan. Comeback manis yang memuaskan sekaligus penebus kekecewaan atas Trigger Warning.
The Fantastic Four: First Steps akhirnya jadi adaptasi fantastis yang sebanding dengan popularitasnya. Visual retro-futuristik Earth-828 dan scoring megah Giacchino menyajikan kesegaran baru yang memanjakan mata. Chemistry kuartetnya solid, terutama Vanessa Kirby yang bersinar. Meski durasi singkat bikin eksplorasi karakter terasa kurang dalam, film ini tetap tontonan emosional yang patut dinikmati.
Panji Tengkorak menghadirkan cerita antihero lokal dengan tone gelap dan visual 2D realistis, tapi narasinya berantakan karena alur maju-mundur dan terlalu banyak karakter. Emosi dan latar kurang tergali, scoring musik sering mengganggu. Meski jauh dari sempurna, film ini layak diapresiasi sebagai langkah berani animasi Indonesia.
The Conjuring: Last Rites jadi penutup manis buat penggemar setia, tapi tumpul dan membosankan untuk penonton horor umum. Unsur horor makin tipis, lebih terasa film keluarga dengan horor tempelan. Eksperimen visual Michael Chaves malah bikin hambar. Fan service jadi daya tarik utama, bukan kengerian. Penutup yang tenang, bukan “gong”.
The Long Walk menyajikan pengalaman distopia mencekam, brutal, sekaligus menggugah emosional. Teror jalan kaki maut ini dieksekusi rapi oleh Francis Lawrence dengan tempo terjaga tanpa terjebak intrik murahan. Akting brilian Cooper Hoffman dan David Jonsson memperkuat nuansa komunal yang sarat emosi. Sebuah adaptasi solid yang menawarkan perspektif berbeda dari genre survival horror.
One Battle After Another mencentang semua syarat tontonan terbaik, dari naskah, eksekusi, hingga akting para pemeran. Paul Thomas Anderson sukses menyeimbangkan semua elemen, menjadikan film berdurasi nyaris tiga jam ini terasa padat, emosional, dan tidak membosankan. Paket lengkap hiburan dan komentar sosial, film ini layak diganjar Oscar.
Thailand sangat setia dengan budayanya, mengawinkan eksorsisme Katolik dengan kearifan lokal. Chemistry aktornya kuat, tapi alurnya berbelit-belit dan bertele-tele hingga membosankan. Penempatan iklannya pun sangat "ngiklan" layaknya podcast YouTube. Meski jauh dari kata sempurna, keunikan formula ini layak dikembangkan menjadi sekuel demi meramaikan keberagaman folklor horor di pasar Asia Tenggara.
No Other Choice membahas korban PHK di era Revolusi Industri, menyorot insting bertahan hidup manusia dengan drama thriller intens, dibumbui komedi ringan. Pengambilan gambar kadang berlebihan, cerita cenderung bertele-tele, dan kurang memicu emosi layaknya Parasite. Namun, akting Lee Byung-hun dan cast lain solid, menjadikannya jauh di atas film lokal tahun ini.
Abadi Nan Jaya jadi comeback Kimo Stamboel yang membelalak mata. Riasan detail dan aksi zombi 'warlok' bersarung ini sungguh gahar, selevel Train to Busan. Sayangnya, nalar ilmiah jamu pembawa bala dan logika ceritanya payah serta mengesalkan. Meski visualnya kelas wahid, cacat logika naskah bikin resolusinya kurang memuaskan.
Shelby Oaks sebenarnya memulai meyakinkan lewat dokufiksi ala Blair Witch, tapi sayangnya melempem dan luntur di tengah jalan. Misterinya menjadi tidak seram, bahkan visualnya berakhir seperti sinetron atau video gim yang terlalu tajam. Potensi Stuckmann terbuang karena gagal konsisten mempertahankan visi kreatifnya. Sebuah debut yang gagal menjadi horor jempolan akibat eksekusi yang meleset jauh dari angan.