Para Perasuk tampil nyeleneh nan absurd, namun tak setajam Penyalin Cahaya. Narasinya melelahkan dengan konflik yang kurang menggigit dan tidak cukup menampar. Meski sinematik serta scoring-nya unik, film ini terjebak stagnasi orbit festival oriented. Bukan karya terbaik Wregas, tapi eksplorasi visualnya yang random tetap berpotensi kuat tembus shortlist FFI 2026.
The Devil Wears Prada 2 tampil beda, tak sekadar sekuel numpang lewat. Fokus kisah beralih dari fesyen ke isu PHK, digitalisasi, dan AI, menjadikannya relevan dengan zaman sekarang. Parade bintang dan cameo jadi daya tarik utama, sementara editing tetap jadi kekuatan. Cerita lebih dewasa, berani, dan menawarkan solusi konvensional di tengah era digital.
Ikatan Darah suguhkan parade aksi brutal, karakter antagonis eksentrik, dan visual kinetik yang imersif, meski plotnya tipis dan logika cerita kadang absurd. Intensitas babak akhir menurun, tapi aksi berdarah-darah tetap jadi magnet utama. Bukan revolusioner, namun layak ditonton bagi pecinta aksi bela diri lokal.
Salmokji: Whispering Water hadir dengan formula horor supernatural yang sudah sering dipakai, plotnya intens namun mudah ditebak, teror tak pernah benar-benar baru. Minim eksposisi soal mitos lokal dan latar angker membuat terornya terasa hambar, karakter-karakternya pun kehilangan makna. Akhirnya, hanya jadi horor biasa tanpa sentuhan humanis atau motivasi kuat.
Bermodal premis segar penjinakan bom dan perampokan, Fuze langsung to the point dengan twist intens yang sulit diantisipasi. Plotnya penuh kejutan dan bikin penasaran sampai klimaks meski temponya sering membingungkan. Tanpa kedalaman kisah, ini sekadar glorifikasi aksi kriminal sebagai hiburan semata layaknya seri Ocean, tanpa ada nilai luhur apa pun.
The Sheep Detectives memadukan misteri whodunit dengan humor segar lewat karakter domba cerdas dan visual efek mengesankan. Naskahnya brilian, penuh kehangatan dan pesan humanis, didukung kasting dan voice cast solid. Sajian rural Inggris menambah kenyamanan. Sayangnya, tontonan sempurna bagi keluarga ini hanya tayang di bioskop terbatas.
Semua Akan Baik-Baik Saja menawarkan drama keluarga urban yang kompleks dengan ensemble cast mewah, akting Reza Rahadian dan Christine Hakim solid, serta visual realistis kehidupan pinggiran. Sayangnya, editing dan transisi terasa terburu-buru, beberapa karakter kurang pas, dan ending kurang elegan. Tetap jadi salah satu drama keluarga terbaik tahun ini.
Plotnya klise, hanya muter-muter perkara dukun dan kesurupan dengan logika cerita yang hancur lebur. Editing berantakan, jumpscare murahan, dan scoring dar-der-dor bikin pening. Kehadiran tiga ratu horor tanah air terbuang sia-sia dalam narasi absurd yang tidak menawarkan kebaruan sama sekali. Nihil pesan moral.
Weapons adalah tontonan paling menggelitik dan menggairahkan, ibarat horor garapan Quentin Tarantino dengan naskah selevel Pulp Fiction. Kemasan plot nonlinier dan beragam perspektifnya digarap amat brilian, memadukan horor hingga komedi secara intens. Karya menyegarkan di tengah gempuran film franchise yang wajib ditonton penikmat film sejati karena kualitasnya yang bernilai tinggi.
Relay adalah thriller bujet rendah yang secara mengejutkan jadi salah satu film terbaik tahun ini. Naskahnya solid, ketegangan intens, chemistry dua tokoh utamanya kuat, dan ending-nya benar-benar tidak terduga. Penggunaan jasa relay sebagai alat komunikasi bikin cerita makin unik dan menegangkan.