Ulasan Kritik

Senin Harga Naik selintas mengingatkan pada Cek Toko Sebelah, namun dikemas apik dan nyaman dinikmati. Meriam Bellina tampil gemilang memerankan sosok Retno yang kompleks, didukung visual roti yang memanjakan mata. Walau karakter Mutia bikin gemas dan bumbu humornya sering berlebihan hingga mengganggu, eksekusi ceritanya tetap mulus sebagai tontonan keluarga yang berkesan.

Premis menarik, gabungan aksi brutal ala Die Hard, sekte iblis, dan komedi, langsung tancap gas tanpa basa-basi. Aksi sadis, darah berceceran, antagonis sulit dibunuh, tapi lama-lama terasa melelahkan. Visual mengingatkan The Raid, set dan transisi meyakinkan. Percobaan seru yang sayang dilewatkan penikmat thriller.

Premisnya segar, mengangkat kiprah TNI AL yang jarang muncul dengan visual KRI yang gagah. Sayang, tensi cerita sering pupus oleh drama kepanjangan dan humor kering. Eksekusinya kurang bernyawa dan datar, mulai dari dialog hingga karakter. Naskah tidak solid membuat momen klimaks serta aksi heroiknya terasa sangat hambar, tanpa nyawa dan emosi.

Project Hail Mary menawarkan kisah penyelamatan umat manusia yang tidak seintens Sunshine atau Interstellar, tapi menonjol lewat struktur cerita kilas balik dan relasi hangat Grace-Rocky yang menghibur. Visual dan aksi standar, montage lagu-lagu populer justru lebih berkesan. Bukan terbaik di genre-nya, tapi memberi tamparan soal nilai kehidupan dengan cara elegan.

Ready or Not 2 punya potensi aksi besar, tapi eksekusinya gagal. Intensitas ketegangan dan horor jauh mengendur dibanding film pertama. Plot mudah ditebak, aksi kucing-kucingannya repetitif tanpa ancaman berarti. Meski naskah mengecewakan, cukup memuaskan melihat duet Grace dan Faith menghabisi elit global pemuja setan tak beradab di tengah situasi dunia serba absurd.

Joko Anwar merespons politik absurd negeri ini melalui horor-komedi yang meledak-ledak. Plotnya spekulatif, dibalut visual ultra-brutal dan estetika kelam yang solid. Dialog sentilan dan sumpah serampah bersliweran tanpa henti. Meski memuaskan fans, kebrutalan ekstrem ini bukan tontonan semua orang. Sebuah pilihan provokatif yang melawan api dengan api, namun tak sepatutnya dibanggakan.

Tiba-tiba Setan menawarkan cerita ringan dengan humor receh yang kelewat sering, plot dan logika yang serba instan, serta pengenalan karakter yang terburu-buru. Sinematografi oke tapi aman-aman saja, jumpscare dan scoring kurang nendang. Hanya Oki Rengga dan Lolox yang sedikit menyelamatkan film horor komedi yang sebenarnya anyep ini.

Horor modern berjiwa klasik, The Mummy garapan Lee Cronin ini mengingatkan era keemasan horor 70-an lewat plot, tone, dan teror misterius yang dibangun perlahan. Kekuatan akting para pemain, estetika body horror, serta absennya solusi religius membuat film ini terasa segar, komplit, dan jadi salah satu horor terbaik era kini.

The Drama bukan tontonan mudah, plotnya brutal penuh kilas-balik hingga sering bikin kehilangan pijakan, tapi editing dan tempo plotnya juara. Penampilan Pattinson dan Zendaya jadi kekuatan utama, chemistry mereka naik turun terasa manusiawi. Kisahnya melelahkan tapi ending-nya menyentuh, menegaskan relasi asmara ditentukan hal personal tiap pasangan.

Michael hanya menarik dari sisi musik dan lagu, tapi kisahnya dangkal, plotnya melompat-lompat, karakterisasi lemah, dan chemistry antarkarakter nyaris tak terasa. Jaafar Jackson mirip secara visual tapi performanya biasa saja. Film ini terasa seperti montage panjang tanpa kedalaman. Bagi fans, tontonan wajib, tapi untuk genre biopic, ini salah satu yang terburuk.

Showing 51 to 60 of 67 entries

Terakhir Dilihat