Some things are meant to be buried.
Putri muda seorang jurnalis tiba-tiba menghilang tanpa jejak di tengah padang pasir. Delapan tahun kemudian, keluarga yang telah hancur karena kehilangan itu dikejutkan oleh kembalinya sang putri. Namun, momen yang seharusnya menjadi reuni penuh kebahagiaan justru berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
sebagai ...
sebagai ...
sebagai ...
sebagai ...
sebagai ...
sebagai ...
sebagai ...
sebagai ...
sebagai ...
sebagai The First Mummy
sebagai ...
sebagai Egyptian Boy
sebagai ...
Lee Cronin’s The Mummy terbilang kreatif dan inklusif, namun kurang spesial bagi penggemar saga aslinya. Unsur supranatural dan body horror-nya justru membuat film ini terasa makin jauh dari citra waralaba. Sayangnya, Cronin terlalu memaksakan kehendak menggunakan nama "The Mummy" padahal jiwanya hilang. Segalanya sudah kepalang jadi bubur karena naskahnya kurang bisa mengeksekusi ide sendiri.
Body horror jadi kekuatan utama, transformasi Katie ke mummy divisualkan dengan detail disturbing dan efek praktikal yang ngilu. Atmosfer mencekam tanpa ruang aman, meski tempo lambat dan beberapa blocking terasa janggal. Ending-nya agak terlalu sempurna, tapi tetap mengejutkan dan memorable. Layak ditonton buat pencinta horor visceral dan slow burn.
Horor modern berjiwa klasik, The Mummy garapan Lee Cronin ini mengingatkan era keemasan horor 70-an lewat plot, tone, dan teror misterius yang dibangun perlahan. Kekuatan akting para pemain, estetika body horror, serta absennya solusi religius membuat film ini terasa segar, komplit, dan jadi salah satu horor terbaik era kini.
Jangan harap petualangan ala The Mummy versi Brendan Fraser. Kali ini, horor merayap perlahan, menghantam lewat visual brutal dan gore eksplisit, bikin penonton meringis. Nuansanya gelap, emosional, dan jauh lebih personal. Cocok buat penggemar horor rumahan, tapi yang anti adegan sadis mending skip saja.
Jika kalian berharap menemukan pesona petualangan ala Brendan Fraser ataupun skala blockbuster seperti era Tom Cruise, The Mummy versi Lee Cronin akan sangat mengecewakan. Film ini tidak mempertahankan soul franchise sebelumnya dan justru menghadirkan pengalaman yang mencekam serta suram. Ceritanya berpusat pada keluarga yang dipertemukan kembali dengan sang putri setelah hilang selama delapan tahun, namun kepulangannya terasa janggal. Sutradara Lee Cronin menggunakan formula horor ruang sempit sebagaimana di karya sebelumnya, tetapi kali ini hasilnya terasa hambar dan tanpa harapan. Tidak ada petualangan ataupun misteri yang menarik, melainkan atmosfer sesak berisi rasa takut yang terus-menerus. Film ini jauh dari harapan dan terasa sebagai tontonan yang lebih menyiksa daripada menghibur.