Ulasan Kritik

Moana live-action terasa seperti menonton ulang versi animasinya, hanya beda kemasan. Tak ada kejutan, spirit dan chemistry lemah, aksi serta musikalnya datar tanpa soul. Dwayne Johnson tampil lesu, Catherine Laga’aia belum sanggup menghidupkan Moana. Hasilnya, film ini kehilangan magis dan berpotensi gagal total di box office.

Gaya bertutur nonlinier khas Nolan berpotensi membingungkan penonton awam, tapi justru tergolong paling mudah diikuti dibanding Oppenheimer maupun Tenet. Sajian IMAX, komposisi gambar terukur, efek digital minim, dan skor Ludwig Göransson membuat pengalaman sangat imersif. Bukan hanya salah satu karya terbaik Christopher Nolan, tapi juga salah satu film antiperang terbaik pada masanya.

Alur bergerak nyaris tanpa henti didominasi aksi brutal dan ketegangan intens. Meski logika Deadites terasa agak janggal, suguhan gore ekstrem tanpa sensor dikemas luar biasa dengan visual ala Sam Raimi. Sébastien Vaniček cerdik menjaga intensitas teror tanpa membuat jenuh. Eksplorasi visual gila-gilaan ini menjadi alasan utama film ini sangat layak dinantikan.

Rasanya seperti tamparan keras bagi keluarga masa kini: narasi jujur, rapi, terukur, nyaris tak bercela, dengan hukum kausalitas yang selalu menemukan resolusi. Dialog anak SMP memang agak kelewat matang, visual kilas balik kadang terlalu bersih, tapi tak jadi ganjalan besar. Akting Ringgo-Bima ciamik dan OST indie mengena. Salah satu karya Gina S. Noer paling berkesan sejauh ini.

Showing 91 to 94 of 94 entries