Ulasan Kritik

Agak Laen: Menyala Pantiku! adalah paket komplet: komedi yang lucu tanpa paksaan, misteri yang seru, dua adegan “emas”, aksi yang mengejutkan, dan pengembangan karakter yang solid. Meski masih membawa beberapa kekeliruan normatif khas film nasional, film ini tetap sukses menutup 2025 dengan cara yang… tentu saja, agak laen: di antara sinema dan kenyataan kita sendiri.

Qorin 2 menawarkan atmosfer visual pedesaan dan drama psikologis yang lebih kuat dibanding pendahulunya, namun eksekusi ritual dan elemen horror kurang konsisten, serta beberapa momen terasa tak realistis meski naskahnya rapi dan kritik sosialnya tajam.

Timur menandai debut penyutradaraan Iko Uwais dengan koreografi laga brutal yang solid, namun naskahnya lemah, kausalitas cerita bermasalah, kematian karakter terasa sia-sia, dan teknik visual serta suara kurang matang, sehingga gagal memberi kedalaman pada kisah nyata yang diadaptasi.

Lupa Daratan menawarkan kritik segar pada industri film dan budaya viral, namun naskahnya kurang tajam secara emosional, komedinya terlalu bertumpu pada verbal dan deretan komika, serta subplot dan visual megahnya kurang dieksplorasi maksimal; akting Agus Kuncoro jadi sorotan utama.

Comic 8 Revolution: Santet K4bin3t menawarkan cerita lebih rapi dan visual lebih santai dari seri sebelumnya, tapi perombakan besar-besaran pemain membuat nuansa generasi awal memudar, sementara film terasa terlalu penuh dan kurang fokus di tengah dominasi komedi verbal dan slapstick.

Debut Aco Tenriyagelli menyajikan drama keluarga dengan sentuhan stand-up comedy yang terasa personal dan emosional, namun pendalaman konflik dan relasi antarkarakter masih dangkal; kekuatan utamanya terletak pada akting solid Teuku R. Wikana dan Marissa Anita serta visual yang intim.

Dusun Mayit menyuguhkan kemegahan visual melalui estetika sinematografi yang ambisius, namun gagal total dalam mengeksekusi nalar naratifnya. Meski Rizal Mantovani mencoba mendobrak klise horor konvensional melalui elemen zombi, kerapuhan logika dan dangkalnya kedalaman karakter membuat terornya terasa hambar. Alhasil, karya ini hanyalah tontonan estetik yang kehilangan nyawa akibat eksekusi skenario yang medioker.

Malam 3 Yasinan menjanjikan secara premis, namun gagal karena narasi bertele-tele dan karakter yang lemah. Wulan Guritno menjadi satu-satunya yang menggendong film ini di tengah logika cerita dan kontinuitas yang berantakan. Plot twist-nya mudah ditebak dan ending-nya terasa menggurui. Eksekusinya masih menjadi pekerjaan rumah besar karena hanya menyajikan horor standar yang bermain di wilayah aman.

Menyatukan empat kisah pendek dengan benang merah pengalaman perempuan, utamanya seputar menstruasi dan relasi gender. Setiap segmen punya kekuatan sendiri, dari kritik standar ganda patriarki sampai komedi absurd gender-swap. Beberapa ending terasa menggantung dan bisa bikin bingung penonton awam, tapi segar sebagai karya festival yang berani dan segmen Not Dead Enough jadi penutup paling menghibur.

Surat Untuk Masa Mudaku dikemas brilian, membangun rasa trenyuh dan rekonsiliasi secara perlahan. Visual 80-annya otentik, musiknya cerdas, dan sinematografinya terasa hidup. Meski plot gampang ditebak tanpa kejutan, akting fresh anak-anak panti serta kematangan Agus Wibowo sangat memikat. Sebuah tontonan matang yang meninggalkan kesan membekas soal luka, harapan, dan cara berdamai dengan masa lalu.

Showing 1 to 10 of 20 entries

Terakhir Dilihat