Ulasan Kritik

Mengangkat isu pinjol dan gaya hidup konsumtif yang sangat relevan, tapi narasinya keburu-buru, karakter serba kilat, dan visual malah sibuk pamer tren TikTok. Konflik diselesaikan serba instan, plot twist gampang ketebak. Scoring jedag-jedug, editing aneh. Potensi besar, eksekusi kurang dalam dan terlalu jamet.

Keadilan (The Verdict) menyajikan drama ruang sidang penuh tensi dengan akting kuat Rio Dewanto dan Reza Rahadian, visual ciamik ala K-thriller tapi tetap berakar lokal. Ceritanya menyorot absurditas hukum Indonesia yang timpang, menyuguhkan konflik moral yang menghantam. Penutup film terasa sendu dan pas. Bukan sekadar hiburan, film ini benar-benar mengguncang.

Balas Budi terjebak naskah mengada-ada tanpa logika akal sehat. Alurnya mirip sinetron dengan plot hole bertebaran serta kebetulan yang memaksa. Teknik breaking the fourth wall pun terasa flat. Ceritanya absurd, menghina intelektualitas penonton, dan jauh dari nalar. Twist akhirnya justru membenamkan kualitas film, apalagi jika ditilik dari sisi moral.

Thriller ini nekat keluar pakem lewat struktur non-linear dan satir politik tajam dalam ruang vertikal sesak. Sayang, eksekusi motif antagonis kabur dan logika ceritanya bolong di sana-sini. Meski atmosfer klaustrofobiknya dapet, ending-nya justru ambil jalan mudah yang kurang memuaskan. Eksplorasi berisiko yang tetap patut diapresiasi sebagai opsi segar di tengah gempuran horor supranatural.

Tunggu Aku Sukses Nanti menawarkan potret keluarga yang sangat relate dan emosional, naskah runut, pengembangan karakter Arga terasa hidup, serta akting para pemain solid. Kekurangan pada penjelasan silsilah keluarga membuat beberapa relasi kurang jelas. Meski begitu, film ini tetap recommended sebagai tontonan Lebaran yang hangat dan menyentuh.

Na Willa sukses menggambarkan dunia anak-anak lewat sudut pandang Willa yang polos dan penuh imajinasi, didukung akting natural Luisa Adreena serta visual 1960-an yang hidup. Namun, narasi kadang terlalu didikte perspektif Willa, beberapa isu dewasa terasa menggantung, dan konflik rasisme kurang kuat. Tetap, film ini cukup utuh sebagai tontonan keluarga.

Tiba-tiba Setan menawarkan cerita ringan dengan humor receh yang kelewat sering, plot dan logika yang serba instan, serta pengenalan karakter yang terburu-buru. Sinematografi oke tapi aman-aman saja, jumpscare dan scoring kurang nendang. Hanya Oki Rengga dan Lolox yang sedikit menyelamatkan film horor komedi yang sebenarnya anyep ini.

Para Perasuk tampil nyeleneh nan absurd, namun tak setajam Penyalin Cahaya. Narasinya melelahkan dengan konflik yang kurang menggigit dan tidak cukup menampar. Meski sinematik serta scoring-nya unik, film ini terjebak stagnasi orbit festival oriented. Bukan karya terbaik Wregas, tapi eksplorasi visualnya yang random tetap berpotensi kuat tembus shortlist FFI 2026.

Ikatan Darah suguhkan parade aksi brutal, karakter antagonis eksentrik, dan visual kinetik yang imersif, meski plotnya tipis dan logika cerita kadang absurd. Intensitas babak akhir menurun, tapi aksi berdarah-darah tetap jadi magnet utama. Bukan revolusioner, namun layak ditonton bagi pecinta aksi bela diri lokal.

Semua Akan Baik-Baik Saja menawarkan drama keluarga urban yang kompleks dengan ensemble cast mewah, akting Reza Rahadian dan Christine Hakim solid, serta visual realistis kehidupan pinggiran. Sayangnya, editing dan transisi terasa terburu-buru, beberapa karakter kurang pas, dan ending kurang elegan. Tetap jadi salah satu drama keluarga terbaik tahun ini.

Showing 11 to 20 of 20 entries

Terakhir Dilihat