Mercy menggabungkan aksi nonstop, investigasi solid, dan chemistry apik antara Pratt dan Ferguson, menghasilkan tontonan menghibur yang relevan dengan isu AI masa kini. Meski kisahnya bukan hal baru, eksekusinya segar dan intens, serta mampu menjaga ketegangan hingga akhir. Mercy sukses sebagai thriller aksi sci-fi yang aktual dan menghibur.
Primate menawarkan sensasi horor segar lewat ancaman simpanse beringas yang brutal dan intens. Aksi nonstop, naskah solid, suspensi maksimal di ruang terbatas, serta gore to the point tanpa basa-basi. Roberts sukses mengolah potensi Ben sebagai antagonis dengan kelas. Penikmat horor wajib tonton film unik ini.
Menyatukan empat kisah pendek dengan benang merah pengalaman perempuan, utamanya seputar menstruasi dan relasi gender. Setiap segmen punya kekuatan sendiri, dari kritik standar ganda patriarki sampai komedi absurd gender-swap. Beberapa ending terasa menggantung dan bisa bikin bingung penonton awam, tapi segar sebagai karya festival yang berani dan segmen Not Dead Enough jadi penutup paling menghibur.
Punya gagasan segar dan berani angkat tema kerterasingan serta trauma, tapi emosi penonton nggak terlibat karena karakter Tania datar dan banyak dialog nggak nyambung suasana. Proses penceritaan meloncat-loncat, banyak lubang, dan penyelesaian tragedi Min Yong terasa terburu-buru. Film ini niatnya besar, tapi hasilnya datar dan kurang berkesan.
Shelter menawarkan tipikal aksi Jason Statham yang itu-itu saja, hanya beda lokasi dan budget lebih minim, tanpa gebrakan baru. Plotnya standar, aksi biasa, dan hanya musiknya yang terasa megah. Mulai terlihat tanda-tanda kejenuhan seperti Liam Neeson. Tak ada peningkatan, hanya mengulang formula lama.
Sam Raimi kembali nyeleneh lewat Send Help. Plot survival ini mengecoh, menjungkirbalikkan kelaziman genre melalui naskah unik dan sentuhan estetik khasnya. Rachel McAdams tampil memukau nan brutal sebagai psikopat manipulatif, jauh dari citra biasanya. Eksplorasi ekstrem slasher dan gore-nya bikin tak nyaman, membuktikan tangan emas sang sineas sukses menaikkan level dari karya-karya sebelumnya.
Surat Untuk Masa Mudaku dikemas brilian, membangun rasa trenyuh dan rekonsiliasi secara perlahan. Visual 80-annya otentik, musiknya cerdas, dan sinematografinya terasa hidup. Meski plot gampang ditebak tanpa kejutan, akting fresh anak-anak panti serta kematangan Agus Wibowo sangat memikat. Sebuah tontonan matang yang meninggalkan kesan membekas soal luka, harapan, dan cara berdamai dengan masa lalu.
Mengangkat isu pinjol dan gaya hidup konsumtif yang sangat relevan, tapi narasinya keburu-buru, karakter serba kilat, dan visual malah sibuk pamer tren TikTok. Konflik diselesaikan serba instan, plot twist gampang ketebak. Scoring jedag-jedug, editing aneh. Potensi besar, eksekusi kurang dalam dan terlalu jamet.
Keadilan (The Verdict) menyajikan drama ruang sidang penuh tensi dengan akting kuat Rio Dewanto dan Reza Rahadian, visual ciamik ala K-thriller tapi tetap berakar lokal. Ceritanya menyorot absurditas hukum Indonesia yang timpang, menyuguhkan konflik moral yang menghantam. Penutup film terasa sendu dan pas. Bukan sekadar hiburan, film ini benar-benar mengguncang.
Balas Budi terjebak naskah mengada-ada tanpa logika akal sehat. Alurnya mirip sinetron dengan plot hole bertebaran serta kebetulan yang memaksa. Teknik breaking the fourth wall pun terasa flat. Ceritanya absurd, menghina intelektualitas penonton, dan jauh dari nalar. Twist akhirnya justru membenamkan kualitas film, apalagi jika ditilik dari sisi moral.