Ulasan Kritik

Jatuh Cinta Seperti di Film-film jadi romcom segar yang personal, penuh referensi dunia film, dan dieksekusi mulus lewat naskah matang Yandy Laurens. Ringgo dan Nirina tampil mengesankan, visual hitam putih bukan sekadar gaya-gayaan. Film ini pantas disebut romcom terbaik generasi sekarang, bukti Yandy layak jadi jagoan baru genre romansa Indonesia.

Menonton Siksa Neraka rasanya bagai disiksa. Eksekusinya kacau, ngalor-ngidul, dan alurnya tak logis akibat kurang riset. Cuma modal adegan sadis tanpa esensi emosi, sementara kisah dunianya bertele-tele. Hasilnya cuma tontonan receh pemburu cuan yang tak peka masalah sosial. Martabat kualitas sinema Indonesia dalam film ini cuma halusinasi semata.

Kereta Berdarah ibarat lokomotif uap zaman purba dibanding Train to Busan. CGI burung dan panorama tampak kasar, ditambah naskah kurang masak yang menabrak logika durasi serta teknologi. Beruntung, visual khas Rizal Mantovani, riasan dedemit mumpuni, dan jumpscare menghibur tetap mampu melepas dahaga horor meski terhambat kerikil-kerikil cerita yang mengganggu laju kereta.

Pemukiman Setan lebih cocok disebut thriller-action penuh gore ketimbang horor, dengan narasi berantakan dan terlalu ugal-ugalan dalam aksi serta CGI. Visual, produksi, dan scoring memang mumpuni, tapi jalan ceritanya membingungkan dan melelahkan. Film ini hiburan bagi penikmat laga, tapi bukan untuk pencari kengerian horor sejati.

Agak Laen hadir dengan lelucon keseharian yang matang, rapi, dan mudah dicerna tanpa slapstick berlebihan. Chemistry kuartet pemeran utama kuat, komedi dan horor berpadu apik, serta drama dieksekusi pas. Sinematografi, tata produksi, dan unsur inklusi patut diapresiasi. Agak Laen memang benar-benar agak lain, sukses menghibur dan layak ditunggu karya selanjutnya.

The Zone of Interest bukan tontonan mudah, tapi kengerian dan rasa tak nyaman terasa kuat lewat pendekatan datar dan subtil Jonathan Glazer. Tanpa menampilkan kekejaman terang-terangan, film ini justru membangun horor lewat ironi kehidupan keluarga Nazi di samping Auschwitz. Film eksperimental ini menuntut pengetahuan sejarah, namun menghadirkan dampak besar dan relevan sebagai pengingat genosida.

Visual menawan, scoring jempolan, dan aktor elite gagal menebus penulisan cerita yang tidak berdaya. Plot melaju tergesa-gesa dengan fondasi lemah dan motif tidak kuat. Karakter pendukung hanya menjadi pelengkap dengan interaksi kaku. Eksekusi visual neo-noir-nya memang layak diacungi jempol, tapi 24 Jam Bersama Gaspar tetap gagal memberikan kepuasan karena skenario hambar.

Joko Anwar bukan sekadar menyajikan imaji liar, tapi benar-benar menyiksa psikis penonton lewat horor psikologis yang ganjil. Naskahnya kompleks nan menjelimet bagai puzzle dengan dialog menguji nalar. Didukung akting teatrikal kelas kakap dan scoring yang mengganggu, sajian mantap ini membuktikan kapasitas Joko Anwar memang di atas rata-rata sutradara Indonesia.

Badarawuhi di Desa Penari gagal memenuhi harapan, tidak menawarkan cerita baru yang esensial dan lebih cocok disebut reboot daripada prekuel. Naskahnya kosong, karakter tidak berkembang, banyak plot kontradiktif, riset budaya minim, dan akting standar. Film ini dinilai sekadar eksploitasi semesta KKN tanpa sentuhan artistik berarti.

Awalnya skeptis karena tema perselingkuhan dan drama rumah tangga yang terasa klise, tapi The Architecture of Love justru tampil sederhana dan emosional. Chemistry Putri Marino dan Nicholas Saputra jadi pusat kekuatan, dialog puitis tidak terasa norak, visual New York digarap apik. Sayangnya, ending-nya terlalu sederhana dan kurang memuaskan.

Showing 71 to 80 of 99 entries

Terakhir Dilihat