Polandia yang diduduki Jerman, musim panas 1943. Hedwig, seorang ibu lima anak yang gigih, berjuang mempertahankan kehidupan keluarganya yang teratur dan damai. Ia telah bekerja keras menciptakan lingkungan ideal bagi anak-anaknya, meski suaminya, Rudolf Hoess, komandan Auschwitz dan perwira SS, selalu sibuk dengan tugasnya. Kehidupan keluarga mereka tampak tenteram, sementara Rudolf disibukkan dengan pengujian sistem ventilasi baru dan pemasangan krematorium mutakhir. Namun, hanya sejarak tipis dari rumah mereka yang harmonis, horor tak terbayangkan berlangsung. Perlahan, keharmonisan Hedwig ternoda oleh asap dan suara-suara mengerikan, menimbulkan pertanyaan tentang batas manusia dan kebiadaban.
sebagai Oswald Pohl
sebagai Bronek
sebagai Rudolf Höss
sebagai Aleksandra Bystron-Kolodziejczyk
sebagai IKL Announcer
sebagai Sophie
sebagai Hedwig's Friend 1
sebagai Gauleiter Fritz Bracht
sebagai War-Wounded Soldier 1
sebagai Auschwitz-Birkenau State Museum Cleaner
sebagai SS Horseman
sebagai Auschwitz-Birkenau State Museum Cleaner
sebagai Marta
sebagai SS Officer 3
sebagai Auschwitz-Birkenau State Museum Cleaner
sebagai Auschwitz-Birkenau State Museum Cleaner
sebagai Claus Höss
sebagai Redheaded Woman
sebagai Glücks' Adjutant
sebagai Elfryda
The Zone of Interest bukan tontonan mudah, tapi kengerian dan rasa tak nyaman terasa kuat lewat pendekatan datar dan subtil Jonathan Glazer. Tanpa menampilkan kekejaman terang-terangan, film ini justru membangun horor lewat ironi kehidupan keluarga Nazi di samping Auschwitz. Film eksperimental ini menuntut pengetahuan sejarah, namun menghadirkan dampak besar dan relevan sebagai pengingat genosida.
Sangat jarang ada film Holocaust yang tidak menunjukkan kekerasan secara visual tapi tetap berasa horor banget seperti The Zone of Interest. Kita diajak melihat bagaimana Rudolf Höss menyeimbangkan urusan rumah tangga dengan "pekerjaannya" tanpa ada rasa dilema sedikit pun. Justru ketiadaan rasa bersalah itulah yang membuat karakternya sangat nyata sekaligus menakutkan.
Setiap frame-nya indah tapi bikin gelisah karena atmosfernya yang terlalu otentik. Sinematografinya juara, tapi pesan moralnya yang bakal terus teringat di kepala setelah film selesai. Film ini memaksa kita menghadapi kenyataan bahwa kejahatan paling besar seringkali dilakukan oleh orang-orang yang merasa dirinya "normal".