Muhammad Feraldi's Portrait

Muhammad Feraldi

Informasi tentang kritikus ini belum tersedia.

Publikasi

CNN Indonesia

Demon Slayer: Infinity Castle Part 1 tampil meyakinkan sebagai pembuka trilogi penutup, unggul di cerita, visual, dan scoring. Tiga pertarungan utama terasa intens dengan latar Infinity Castle yang dieksplorasi maksimal. Kilas balik memperkuat emosi, terutama kisah Akaza. Infinity Castle sukses menghadirkan kegentingan sebagai pengantar dua film selanjutnya.

Wregas Bhanuteja tampil cemerlang lewat Budi Pekerti, menghidupkan isu cancel culture dengan latar Yogyakarta yang otentik dan dialog Jawa yang teliti. Para aktor, terutama Angga Yunanda, tampil luar biasa. Cerita sederhana tapi berdampak, visual penuh makna, klimaks emosional. Film ini pantas mendominasi penghargaan tahun ini.

Home Sweet Loan layak jadi salah satu film paling penting tahun ini karena berhasil memotret keresahan kelas menengah dengan detail yang sangat relate dan personal. Penyutradaraan Sabrina Rochelle jempolan, didukung akting solid Yunita Siregar dan jajaran pemain lain. Musik latar khas Visinema pas, makin menghidupkan cerita dan emosi.

Visual menawan, scoring jempolan, dan aktor elite gagal menebus penulisan cerita yang tidak berdaya. Plot melaju tergesa-gesa dengan fondasi lemah dan motif tidak kuat. Karakter pendukung hanya menjadi pelengkap dengan interaksi kaku. Eksekusi visual neo-noir-nya memang layak diacungi jempol, tapi 24 Jam Bersama Gaspar tetap gagal memberikan kepuasan karena skenario hambar.

The Zone of Interest bukan tontonan mudah, tapi kengerian dan rasa tak nyaman terasa kuat lewat pendekatan datar dan subtil Jonathan Glazer. Tanpa menampilkan kekejaman terang-terangan, film ini justru membangun horor lewat ironi kehidupan keluarga Nazi di samping Auschwitz. Film eksperimental ini menuntut pengetahuan sejarah, namun menghadirkan dampak besar dan relevan sebagai pengingat genosida.

Jatuh Cinta Seperti di Film-film jadi romcom segar yang personal, penuh referensi dunia film, dan dieksekusi mulus lewat naskah matang Yandy Laurens. Ringgo dan Nirina tampil mengesankan, visual hitam putih bukan sekadar gaya-gayaan. Film ini pantas disebut romcom terbaik generasi sekarang, bukti Yandy layak jadi jagoan baru genre romansa Indonesia.

Sore: Istri dari Masa Depan meninggalkan jejak emosi mendalam yang terngiang lama. Kualitas produksinya benar-benar upgrade, dibalut akting monumental Sheila Dara yang sureal. Meski eksplorasi time loop-nya berisiko menjemukan, kegilaan di akhir cerita membayar lunas segalanya. Sebuah karya monumental yang membawa film romansa Indonesia ke level berbeda yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sepertiga awal film terasa padat, melelahkan, dan penuh istilah teknis, tapi semua terbayar setelah aksi gila Tom Cruise dimulai. Adegan ekstrem bikin tegang, plot awal berantakan jadi nggak penting. Kolaborasi Cruise dan McQuarrie solid, akting pendukung oke, ending memuaskan, dan layak jadi penutup saga Mission: Impossible.

Reboot ini menjadi angin segar yang menetapkan standar tinggi bagi DC Universe lewat eksplorasi sisi humanis dan ketulusan Superman yang dieksekusi cerdas oleh James Gunn, didukung akting David Corenswet yang sempurna serta keberanian mengangkat isu sosial relevan.

Terakhir Dilihat