No Other Choice membahas korban PHK di era Revolusi Industri, menyorot insting bertahan hidup manusia dengan drama thriller intens, dibumbui komedi ringan. Pengambilan gambar kadang berlebihan, cerita cenderung bertele-tele, dan kurang memicu emosi layaknya Parasite. Namun, akting Lee Byung-hun dan cast lain solid, menjadikannya jauh di atas film lokal tahun ini.
Abadi Nan Jaya jadi comeback Kimo Stamboel yang membelalak mata. Riasan detail dan aksi zombi 'warlok' bersarung ini sungguh gahar, selevel Train to Busan. Sayangnya, nalar ilmiah jamu pembawa bala dan logika ceritanya payah serta mengesalkan. Meski visualnya kelas wahid, cacat logika naskah bikin resolusinya kurang memuaskan.
Shelby Oaks sebenarnya memulai meyakinkan lewat dokufiksi ala Blair Witch, tapi sayangnya melempem dan luntur di tengah jalan. Misterinya menjadi tidak seram, bahkan visualnya berakhir seperti sinetron atau video gim yang terlalu tajam. Potensi Stuckmann terbuang karena gagal konsisten mempertahankan visi kreatifnya. Sebuah debut yang gagal menjadi horor jempolan akibat eksekusi yang meleset jauh dari angan.
Pangku membuktikan Reza Rahadian bukan cuma aktor top, tapi juga sutradara dan penulis naskah dengan potensi gemilang. Film ini kaya isu sosial, gender, budaya, hingga ekonomi, dikemas tanpa dialog berlebihan dan visual kuat. Semua pemain tampil solid, ending menghantam emosi. Standar film Indonesia baru sudah diciptakan.
Wicked: For Good hadir dengan atmosfer lebih berat dan konflik kompleks dibanding bagian pertamanya yang penuh keajaiban dan warna. Lagu-lagu di film ini tidak semagis sebelumnya, meski The Girl in the Bubble dari Ariana Grande mencuri perhatian. Penampilan Grande dan Cynthia Erivo solid, sementara kru dan tim produksi patut diacungi jempol.
Mudborn tawarkan sensasi horor Tionghoa lewat jumpscare tak tertebak ala intrusive thoughts yang bikin napas tercekat. Visi visual Meng-Ju Shieh menjanjikan, tapi sayangnya dihantam VFX tak konsisten dan naskah berantakan penuh improvisasi random. Visi visual kuat sang mantan editor terbukti belum mampu menyelamatkan naskah yang kebanyakan improvisasi dan mengganjal.
Neo-noir racikan Filho ini tegas menekankan perjuangan melawan tiran lewat visual apik tanpa tone kuning. Meski babak awal jadi ujian keimanan penonton akibat tempo lambat, alur berikutnya melaju bak jalan tol penuh ketegangan. Penampilan Wagner Moura memberikan kejutan puncak dan pantas diganjar aktor terbaik. Inilah potret perjuangan integritas yang membuka cakrawala baru.
Sentimental Value menggambarkan berantakannya proses memaafkan ayah lewat melankolia yang sunyi dan menusuk. Akting rapuh Renate Reinsve menyatu dalam visual intim dan narasi dongeng pilu. Meski ada ganjalan moral atas ego orang tua yang diwajarkan, sajian filosofis ini tetaplah sebuah masterpiece yang mengakhiri siklus trauma menyakitkan secara tepat di menit-menit terakhir.
Merah Putih: One for All terasa seperti pementasan drama anak 17-an yang kurang latihan, dengan cerita, naskah, animasi, dan teknis serba seadanya. Dialog cringe, logika cerita terseok, dan pesan mulia disampaikan terlalu gamblang. Satu bintang diberikan, itupun hanya untuk dedikasi Bintang Takari yang mengerjakan semuanya sendirian.
Rangga & Cinta digarap serius dan penuh cinta, setia pada AADC dengan beberapa pembaruan yang terasa lebih dewasa. Akting El Putra Sarira sebagai Rangga dan Leya Princy sebagai Cinta patut diacungi jempol. Sayangnya, film ini kadang terasa jumpy dan kurang menghadirkan nostalgia yang kuat. Potensi besar jika semestanya dieksplorasi lebih lanjut.