Ulasan Kritik

Perang Kota bukan heroisme pasaran, melainkan potret humanis yang intim dan segar. Mouly Surya menyoroti sisi kelam pejuang dari urusan perut hingga urusan ranjang. Meski pacing sesekali lambat, visual 4:3 yang mewah dan akting matang pemerannya bikin film ini tetap menawan. Comeback manis yang memuaskan sekaligus penebus kekecewaan atas Trigger Warning.

Sore: Istri dari Masa Depan meninggalkan jejak emosi mendalam yang terngiang lama. Kualitas produksinya benar-benar upgrade, dibalut akting monumental Sheila Dara yang sureal. Meski eksplorasi time loop-nya berisiko menjemukan, kegilaan di akhir cerita membayar lunas segalanya. Sebuah karya monumental yang membawa film romansa Indonesia ke level berbeda yang belum pernah terjadi sebelumnya.

The Fantastic Four: First Steps akhirnya jadi adaptasi fantastis yang sebanding dengan popularitasnya. Visual retro-futuristik Earth-828 dan scoring megah Giacchino menyajikan kesegaran baru yang memanjakan mata. Chemistry kuartetnya solid, terutama Vanessa Kirby yang bersinar. Meski durasi singkat bikin eksplorasi karakter terasa kurang dalam, film ini tetap tontonan emosional yang patut dinikmati.

Weapons fokus pada misteri hilangnya 17 murid, menyajikan sudut pandang berbeda yang menarik dan sinematografi kreatif. Akting Julia Garner, Josh Brolin, dan Cary Christopher menonjol, adegan gore presisi, scoring pas. Namun, pengembangan karakter dan antagonis kurang, side plot menggantung, beberapa misteri dibiarkan tanpa jawaban. Ending memuaskan sebagian penonton.

Pretty Crazy bikin menelan kekecewaan karena gagal melampaui Exit. Genre fusion-nya tidak seimbang, membuat penceritaan dan romansa terasa nanggung. Untungnya, akting apik YoonA, Ahn Bo-hyun, dan Sung Dong-il jadi obat atas naskah yang punya catatan signifikan. Tetap jadi hiburan ringan yang sanggup mengacak-acak perasaan lewat isu pengangguran dan kasih orang tua.

Panji Tengkorak menghadirkan cerita antihero lokal dengan tone gelap dan visual 2D realistis, tapi narasinya berantakan karena alur maju-mundur dan terlalu banyak karakter. Emosi dan latar kurang tergali, scoring musik sering mengganggu. Meski jauh dari sempurna, film ini layak diapresiasi sebagai langkah berani animasi Indonesia.

The Conjuring: Last Rites jadi penutup manis buat penggemar setia, tapi tumpul dan membosankan untuk penonton horor umum. Unsur horor makin tipis, lebih terasa film keluarga dengan horor tempelan. Eksperimen visual Michael Chaves malah bikin hambar. Fan service jadi daya tarik utama, bukan kengerian. Penutup yang tenang, bukan “gong”.

The Long Walk menyajikan pengalaman distopia mencekam, brutal, sekaligus menggugah emosional. Teror jalan kaki maut ini dieksekusi rapi oleh Francis Lawrence dengan tempo terjaga tanpa terjebak intrik murahan. Akting brilian Cooper Hoffman dan David Jonsson memperkuat nuansa komunal yang sarat emosi. Sebuah adaptasi solid yang menawarkan perspektif berbeda dari genre survival horror.

One Battle After Another mencentang semua syarat tontonan terbaik, dari naskah, eksekusi, hingga akting para pemeran. Paul Thomas Anderson sukses menyeimbangkan semua elemen, menjadikan film berdurasi nyaris tiga jam ini terasa padat, emosional, dan tidak membosankan. Paket lengkap hiburan dan komentar sosial, film ini layak diganjar Oscar.

Thailand sangat setia dengan budayanya, mengawinkan eksorsisme Katolik dengan kearifan lokal. Chemistry aktornya kuat, tapi alurnya berbelit-belit dan bertele-tele hingga membosankan. Penempatan iklannya pun sangat "ngiklan" layaknya podcast YouTube. Meski jauh dari kata sempurna, keunikan formula ini layak dikembangkan menjadi sekuel demi meramaikan keberagaman folklor horor di pasar Asia Tenggara.

Showing 21 to 30 of 68 entries

Terakhir Dilihat