Di sebuah desa yang damai, persiapan menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia berlangsung meriah. Sekelompok anak terpilih menjadi "Tim Merah Putih", dipercaya menjaga bendera pusaka yang akan dikibarkan pada upacara 17 Agustus. Namun, tiga hari sebelum perayaan, bendera kebanggaan desa itu tiba-tiba hilang. Delapan anak dari latar belakang budaya yang berbeda—Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan Tionghoa—harus bekerja sama, mengesampingkan perbedaan demi satu tujuan: menemukan dan menyelamatkan bendera pusaka. Petualangan mereka penuh tantangan, memperkuat arti persatuan dan semangat kebangsaan di tengah keberagaman.
Belum ada detail pemeran yang tersedia untuk film ini.
Merah Putih: One for All terasa seperti pementasan drama anak 17-an yang kurang latihan, dengan cerita, naskah, animasi, dan teknis serba seadanya. Dialog cringe, logika cerita terseok, dan pesan mulia disampaikan terlalu gamblang. Satu bintang diberikan, itupun hanya untuk dedikasi Bintang Takari yang mengerjakan semuanya sendirian.
Alur datar kayak slide presentasi, logikanya bikin geleng-geleng. Visualnya kaku mirip patung lilin dengan transisi PowerPoint, plus audio berantakan ala YouTube gratisan. Budget miliaran tapi hasilnya ngawur kayak tugas sekolah. Merah Putih: One For All gagal total, cuma bikin dahi berkerut dan ketawa kecut. Mending skip daripada nyesel kena visual cringe dan audio hancur.
Belum ada ulasan dari pengguna.