Athar Farha's Portrait

Athar Farha

Informasi tentang kritikus ini belum tersedia.

Publikasi

Yoursay

Keberanian visual Panji Tengkorak patut diacungi jempol, meski nuansa animasinya mengingatkan pada Spider Verse. Detail animasi memanjakan mata, tapi penempatan lagu kadang janggal dan mengganggu tensi. Flashback kurang padat, beberapa karakter kurang digali. Tetap, animasi Indonesia akhirnya berani tampil beda di genre action.

Sentimental Value garapan Joachim Trier menyuguhkan drama keluarga penuh luka lama, sindiran getir, dan humor absurd. Gustav, ayah egois yang hidupnya didedikasikan untuk sinema, justru memperparah luka anak-anaknya lewat proyek film pribadi. Akhirnya memang agak lunak, tapi keseluruhan film tetap terasa tajam dan wajib ditonton pecinta drama keluarga kompleks.

Keluarga Super Irit menawarkan chemistry keluarga Sasono-Mulia yang natural dan komedi segar tanpa slapstick murahan. Setiap karakter hidup, terutama anak-anak yang aktingnya jujur dan menghibur. Meski ada subplot yang terasa tempelan, film ini tetap jadi tontonan keluarga yang genuine, satir, dan seru buat akhir pekan.

Judulnya terdengar klise ala horor 2000-an, tapi ternyata lebih dari sekadar parade jeritan dan jumpscare murahan. Pendekatan atmosferiknya dengan emosi keluarga yang intens. Chemistry pemainnya kuat, ditambah akting kesurupan yang bikin merinding. Twist akhirnya cerdik, menutup cerita dengan rasa penasaran apakah setan beneran sudah pergi atau justru baru mulai bermain.

Hi-Five jadi bukti kehebatan Kang Hyeong-cheol meramu emosi dan hiburan, dengan karakter hidup dan momen kocak yang nggak receh. Ra Mi-ran, Ahn Jae-hong, Kim Hee-won, Yoo Ah-in, dan Lee Jae-in tampil solid. Akhirnya manis, pesan moralnya kuat. Subplot ada yang terburu-buru, tapi overall tetap segar dan layak tonton.

Alur lambat membuat arah cerita nggak jelas dengan penggalian konflik yang minim. Hubungan karakter terasa dingin dan terburu-buru tanpa proses emosional nyata. Meski niatnya tulus, kelemahan struktur cerita dan naskah membuat film ini gagal menyentuh. Sangat disayangkan, film ini nggak membiarkan diriku masuk lebih dalam karena eksekusinya kurang matang.

Film The Home gagal total karena terasa seperti parodi kacau tanpa arah. Pete Davidson tampil datar, sementara horornya hanya mengandalkan jumpscare murahan yang justru bikin tertawa geli. Alih-alih jadi satir tajam, film ini terjebak kekerasan banal dan twist bodoh. Hasilnya, ini horor paling mengecewakan tahun ini yang gagal menakuti sekaligus gagal menyampaikan pesan sosialnya.

Tenung sempat menjanjikan lewat drama emosional antara karakter, tapi kehilangan arah di paruh kedua menjadi parade jumpscare tanpa konteks, didukung scoring repetitif dan karakter lemah, sehingga terasa klise dan kurang matang di tangan Rizal Mantovani.

Avatar - Fire and Ash menawarkan visual Pandora yang memukau dan memperkenalkan antagonis baru yang potensial, namun gagal mendalami tema emosional, menyia-nyiakan karakter pendukung, dan terasa terlalu aman serta repetitif.

Qorin 2 tampil berani sebagai standalone sequel dengan tema bullying yang relevan dan visual kekerasan yang intens, namun kedalaman karakter dan konsep qorin terasa dangkal, alur repetitif, serta lebih menonjolkan horor manusia ketimbang supranaturalnya.

Terakhir Dilihat