Visualnya digarap serius dengan detail penuh ambisi, sukses menghadirkan standar baru animasi lokal. Sayangnya, kekuatan teknis ini tidak diimbangi narasi sepadan; ceritanya dangkal, tidak logis, dan meremehkan penonton anak-anak. Humornya meleset, karakternya hambar, serta terlalu banyak mengandalkan dialog. Secara visual mengesankan, namun Pelangi di Mars lemah dalam cerita. Langkah maju yang menyisakan pekerjaan rumah besar.
Ambisi setinggi langit Pelangi di Mars sayangnya hampa dan kurang berbobot. Isinya didominasi yapping berisik robot rongsokan dengan pola kalimat kaku layaknya AI. Visualnya memang mengejutkan, tapi jiwanya luput dan tidak terasa humanis. Bakat animator lokal sebenarnya sudah berkelas dunia, namun film ini gagal memberikan nyawa yang mampu menggetarkan emosi penonton secara mendalam.
Pelangi di Mars punya visual dan animasi robot yang mengesankan untuk ukuran Indonesia, namun semua kehebatan teknis itu terasa sia-sia karena cerita yang dangkal, dialog tidak penting, dan emosi yang tidak terbangun. CGI jadi pajangan mati karena naskah lemah, visual hanya pamer teknologi, dan unsur nasionalisme terasa dipaksakan.
Visual Pelangi di Mars luar biasa, tapi naskahnya tidak berlaku. Plot datar, minim ancaman, dan membosankan akibat durasi yang mengulur waktu. Celotehan robot yang berisik terasa sangat melelahkan. Visual memang memikat, tapi naskah yang terorientasi penuh untuk anak-anak gagal memberikan kesan mendalam bagi penonton segala umur.
Alur awal Pelangi di Mars memang lambat dan bikin bosan, tapi babak ketiga langsung nendang dengan aksi dan emosi yang seru. Nostalgia sci-fi 90-an, komedi receh tapi ngakak, dan drama keluarga bikin hati hangat. Unsur budaya lokal dan global dipadukan kreatif, hasilnya tontonan keluarga yang relevan, seru, dan menyenangkan.