Kisah cinta yang penuh gairah dan gejolak ini berlatar di padang liar Yorkshire, menggambarkan hubungan yang begitu intens sekaligus merusak antara Heathcliff dan Catherine Earnshaw.
sebagai Young Heathcliff
sebagai Young Nelly Dean
sebagai Isabella Linton
sebagai Edgar Linton
sebagai Grave Digger 1
sebagai Mr. Earnshaw
sebagai Whip-Wielding Man
sebagai Catherine Earnshaw
sebagai Nelly Dean
sebagai Heathcliff
sebagai Gallows Master
sebagai Young Catherine
Wuthering Heights versi Emerald Fennell memangkas banyak karakter, menonjolkan hubungan Cathy-Heathcliff yang intens dan dewasa, menghilangkan unsur gaib, tapi justru memukau secara visual dengan nuansa gelap ala Tim Burton. Akting Elordi dan Robbie mengesankan. Adaptasi ini bakal bikin loyalis klasik geleng-geleng, tapi secara estetika, ini pencapaian unik dan brutal.
Visual gothic yang memikat dan chemistry Margot Robbie-Jacob Elordi jadi kekuatan utama, menghadirkan dinamika hubungan penuh obsesi dan konflik emosional yang berat. Bukan kisah cinta romantis yang nyaman, tapi justru gelap, messy, dan tragis. Wuthering Heights meninggalkan kesan kuat dan sulit dilupakan, meski tidak selalu mudah dinikmati.
Bukan sebuah adaptasi setia novel Brontë, melainkan melodrama erotis yang mengorbankan isu rasisme dan trauma antargenerasi demi visual dan sensualitas bombastis. Narasi dangkal, casting blunder, karakter dipangkas, dunia terasa sempit. Sebagai karya artistik Fennell, film ini berani dan provokatif, tapi bukan untuk pencinta novel aslinya.
Setelah nunggu-nunggu adaptasi ini, perasaanku campur aduk. Jacob Elordi emang gila sih, presence-nya kuat banget dan dia ngebuktiin kalau dia aktor yang serius. Bareng Hong Chau, mereka berdua bener-bener nyelamatin film ini. Chau mainnya disiplin banget, tipe emosi yang ditahan tapi nyampe ke kita. Sinematografinya juga cakep, meski desain setnya menurutku agak meleset dari nuansa ceritanya.
Masalah utamanya ada di penulisan. Margot Robbie kayak nggak dikasih ruang buat nunjukin kompleksitas Cathy, jadi karakternya kerasa dangkal banget. Sayang aja, potensi drama klasiknya malah kalah sama keinginan filmnya buat nge-eksploitasi nama besar aktor utamanya. Kayaknya film ini nggak bakal se-ikonik versi aslinya. Aku cuma berharap Elordi terus ambil peran-peran berbobot kayak gini karena dia punya potensi besar ke depannya.
Agak nyesel juga nontonnya. Walaupun aku nggak naruh harapan tinggi, versi ini malah kerasa kayak penghinaan buat bukunya Brontë. Fennell seolah cuma fokus sama obsesi aneh tanpa mikirin kedalaman cerita.
Visualnya memang memanjakan mata, tapi cuma sebatas itu. Margot Robbie sebenernya tampil maksimal, tapi sayang banget dia harus terjebak di tengah kekacauan ini, apalagi ditambah performa Elordi yang kerasa nggak masuk ke karakternya. Ini jelas jadi pengalaman nonton paling mengecewakan tahun ini. Kalau bisa skip, mending skip aja.