Tahun 1948. Ratusan ribu warga Palestina terpaksa meninggalkan rumah mereka. Namun, petani jeruk Palestina, SHARIF, menolak pergi. Ia mengirim keluarganya ke tempat aman dan memilih bertahan demi melindungi tanah warisan leluhurnya. Tak lama kemudian, kotanya jatuh dan Sharif ditangkap. Bulan demi bulan berlalu, keluarganya diliputi kecemasan, bahkan SALIM, putra bungsunya yang paling berharap, mulai meratapi kepergian sang ayah. Setahun kemudian, mereka telah kehilangan harapan untuk bertemu Sharif lagi—hingga ia tiba-tiba muncul di depan pintu mereka, lemah dan nyaris tak dikenali. Salim pun merasa seolah benar-benar telah kehilangan figur ayahnya.
Puluhan tahun berlalu, Sharif masih dihantui oleh lenyapnya kehidupan dan masyarakat yang ia kenal. Ia terus memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk mengubah nasib keluarganya. Kini, Salim telah berkeluarga dan hidup di kamp pengungsi yang reyot di Tepi Barat yang diduduki. Suatu hari, Salim bergegas membawa putranya, NOOR, pulang saat jam malam tiba-tiba diumumkan. Mereka tertangkap patroli tentara Israel. Dalam kejadian yang mengguncang, Noor menyaksikan ayahnya tak mampu melindunginya. Seketika, Noor kehilangan sosok pahlawan yang ia kagumi, menganggap ayahnya pengecut.
Hampir satu dekade kemudian, Tepi Barat bergolak dalam perlawanan. Noor, yang kini remaja pemberani, menentang tentara Israel dalam aksi protes yang berujung kekacauan. Ia terluka dan dilarikan ke rumah sakit. Saat dokter berjuang menyelamatkan Noor, Salim dan Hanan menemukan secercah harapan di tengah derita yang menimpa keluarga mereka.
sebagai Salim
sebagai Hanan
sebagai Noor
sebagai Munira
sebagai Ari
sebagai Sharif
sebagai Soldier
sebagai Older Sharif
sebagai Doctor
sebagai Malek
sebagai Layla
Belum ada ulasan dari kritikus.
Belum ada ulasan dari pengguna.