Red Sonja (2025) menampilkan aksi Matilda Lutz yang energik dan villain karismatik dari Robert Sheehan, namun kualitas CGI dan beberapa aspek produksi terasa murah, script-nya canggung, serta tema feminis dan anti-kolonial kurang halus penyampaiannya.
Janji Senja: Sagu Salempeng Bagi Dua menonjolkan akting alami para aktor lokal Maluku, kekuatan narasi tentang integritas dan keluarga, serta atmosfer budaya yang autentik, namun pacing di bagian tengah terasa lambat dan efek visual sederhana mencerminkan keterbatasan bujet.
Tukar Takdir menonjol berkat kedalaman psikologis dan tema kehilangan yang dieksplorasi Mouly Surya, didukung akting transformasional Nicholas Saputra dan ensemble solid; namun, investigasi terasa kurang mendalam dan beberapa dialog keluarga cenderung klise meski dieksekusi baik.
Dongji Rescue menawarkan aksi laut spektakuler dan kedalaman emosional melalui akting Zhu Yilong, didukung sinematografi dan produksi autentik, namun narasinya kadang formulaik dan cenderung jingoistik dengan penggambaran antagonis Jepang yang karikatural.
Tumbal Darah menggabungkan horor brutal dan drama sosial dengan latar pandemi secara efektif, didukung akting kuat, desain produksi mencekam, dan tema pengorbanan yang relevan; namun, beberapa plot twist terasa klise dan CGI makhluk gaib kurang halus.
Avatar - Fire and Ash menawarkan visual Pandora yang memukau dan memperkenalkan antagonis baru yang potensial, namun gagal mendalami tema emosional, menyia-nyiakan karakter pendukung, dan terasa terlalu aman serta repetitif.
One Battle After Another menampilkan performa terbaik DiCaprio sejak The Revenant, chemistry cast yang alami, visual VistaVision dan 70mm yang memukau, serta ritme cepat, meski satire politiknya terasa repetitif dan subplot ayah-anak kurang dalam.
Pengin Hijrah menampilkan konflik batin yang kuat dan adaptasi hidup dari novel aslinya, didukung dialog relevan untuk generasi Z dan milenial, visual Uzbekistan yang menonjol, akting matang Steffi Zamora, chemistry alami, serta kritik tajam pada budaya media sosial, meski ada kekakuan dialog awal dan CGI minor.
Regretting You ditopang penampilan kuat Allison Williams dan relasi ibu-anak yang meyakinkan, tetapi naskah formulaik, editing berantakan, dan minim inovasi membuatnya mudah ditebak serta kurang berkesan, meski temanya tentang pengampunan tetap tersampaikan.
Akting para pemeran sangat menonjol dan natural, dengan Sha Ine Febriyanti tampil memikat sebagai Wulan, didukung penyutradaraan Kuntz Agus yang memberi ruang tiap karakter bersinar; naskah reflektif dan dialog terasa nyata, meski tempo kadang lambat dan karakter ayah kurang digali.