Panggil Aku Ayah sukses mengadaptasi trope found family dengan pendekatan khas Indonesia, terutama pada hubungan Dedi dan Pacil yang emosinya kuat dan menyentuh. Proses kedekatan terasa natural, didukung akting solid Ringgo Agus dan Myesha Lin. Sayangnya, chemistry memudar saat Intan dewasa, membuat klimaks terasa hambar. Film ini tetap relevan berkat isu-isu sosial yang diangkat.
Tony Leung Ka Fai jadi magnet utama The Shadow's Edge, tampil gahar dan kharismatik sebagai villain nyaris sempurna. Jackie Chan nyaman di peran mentor, didukung aksi dan emosi dari pemain muda. Plot terlalu padat dan kadang membingungkan, tapi sajian laga dan akting kelas wahid bikin film ini tetap layak ditonton.
Efisien, efektif, dan sangat fokus, It Was Just an Accident menyajikan cerita sederhana namun padat lewat dialog kasual dan dinamika kelompok yang intens. Konflik, emosi, dan trauma tersaji tanpa efek berlebihan, diperkuat akting solid terutama dalam adegan one take. Film ini pantas diganjar Palme d'Or dan layak jadi kandidat Oscar.
Sulit menyebut Danur: The Last Chapter sebagai penutup klimaks. Naskahnya stagnan, cuma modal jumpscare dengan logika Risa yang tetap amatiran hadapi dedemit. Visualnya memang lebih estetik, tapi tampilan Peter cs dengan wig kuning ganjil itu hasil kepepet. Prilly pun terkesan pasif. Film ini sekadar persembahan buat fans loyal, bukan untuk penonton kritis.
Ambisi setinggi langit Pelangi di Mars sayangnya hampa dan kurang berbobot. Isinya didominasi yapping berisik robot rongsokan dengan pola kalimat kaku layaknya AI. Visualnya memang mengejutkan, tapi jiwanya luput dan tidak terasa humanis. Bakat animator lokal sebenarnya sudah berkelas dunia, namun film ini gagal memberikan nyawa yang mampu menggetarkan emosi penonton secara mendalam.
The King’s Warden langsung mengunci perhatian lewat ritme dinamis, jauh dari drama sejarah yang kaku. Cerita terarah, akting Park Ji-hoon dan Yoo Hae-jin jadi pusat kekuatan emosional. Visual memukau, komentar sosial tajam, satu-satunya minus hanya efek visual binatang. Drama sejarah yang hangat, menyentuh, dan sangat layak ditonton.
Project Hail Mary adalah paket komplet yang melampaui The Martian. Meski narasinya maju-mundur, duet Lord-Miller serta akting apik Ryan Gosling sukses membungkus drama personal epik ini. Visual cantik Greig Fraser dan scoring Daniel Pemberton menyempurnakan perjalanan sunyi di ruang hampa. Sulit menampik, inilah salah satu film terbaik 2026 yang menyenangkan secara sinematik maupun emosi.
Sekuel ini ambisius membangun lore Capitalist Satanic Cult lewat humor gelap yang brutal dan ugal-ugalan. Samara Weaving tetap memikat, namun naskahnya terjebak penjelasan bertele-tele tanpa banyak ide segar. Meski tumpahan darahnya kreatif, film ini kehilangan fokus tajam pendahulunya. Hasilnya, sebuah tontonan yang menyenangkan di permukaan tapi terasa seperti pengulangan yang mulai melelahkan.
Ghost in the Cell menyuguhkan horor gore eksplisit dengan kritik sosial pedas soal bobroknya sistem lapas Indonesia. Visual lubang-lubang menjijikkan jadi simbol rusaknya moralitas. Penampilan Aming sebagai psikopat benar-benar beda dan mengancam. Sindiran sosial lewat dialog satir bikin film ini makin tajam, gelap, tapi tetap menghibur.
Lee Cronin’s The Mummy terbilang kreatif dan inklusif, namun kurang spesial bagi penggemar saga aslinya. Unsur supranatural dan body horror-nya justru membuat film ini terasa makin jauh dari citra waralaba. Sayangnya, Cronin terlalu memaksakan kehendak menggunakan nama "The Mummy" padahal jiwanya hilang. Segalanya sudah kepalang jadi bubur karena naskahnya kurang bisa mengeksekusi ide sendiri.