Wregas sukses menggocek bayangan horor lewat pertunjukan eksperimental nan teatrikal. Walau dialek Desa Latas mengganjal dan tak konsisten, visual cantik Gunnar Nimpuno serta totalitas Maudy Ayunda hingga Anggun C Sasmi tetap memukau. Pesta rakyat ini menjadi pengalaman sinematik utuh yang tajam, meski mungkin tidak mudah dicerna semua orang.
Para Perasuk tampil nyeleneh nan absurd, namun tak setajam Penyalin Cahaya. Narasinya melelahkan dengan konflik yang kurang menggigit dan tidak cukup menampar. Meski sinematik serta scoring-nya unik, film ini terjebak stagnasi orbit festival oriented. Bukan karya terbaik Wregas, tapi eksplorasi visualnya yang random tetap berpotensi kuat tembus shortlist FFI 2026.
Awalnya terasa aneh, bahkan beberapa jokes terasa cringe. Namun, alam sambetan Wregas justru jadi ruang reflektif yang imersif. Akting Maudy Ayunda totalitas di kandang ayam, performa Anggun ikonik, dan Bryan Domani tetap memesona meski "menjamet". Visualnya punya identitas solid lewat sinematografi khas, walaupun CGI di beberapa adegan masih terasa kurang mulus.