Ulasan Kritik

The Naked Gun hadir sebagai reboot kocak dengan humor slapstick khas, aksi absurd, dan sentuhan nostalgia yang segar. Liam Neeson tampil gokil di luar zona nyamannya, chemistry pemain solid, dan banyak tribute buat fans lama. Kekurangannya, pacing sempat melambat dan beberapa joke kurang nyambung untuk penonton baru, tapi tetap hiburan ngakak tanpa basa-basi.

Ritual sate gagak tiga sahabat koplak ini gokil abis dan penuh absurditas murni. Chemistry organik Trio Gagak sukses nyentil realita ekonomi lewat dialog tongkrongan relate. Meski horornya lemah, pacing rush, dan editing terasa amatir, ini debut raw yang charming. Brilian berkat ide orisinal pesugihan yang bikin kaya sekaligus telanjang secara harfiah maupun kiasan.

Waktu Maghrib 2 hadir dengan atmosfer horor yang lebih gelap, sinematografi dan sound design juara, serta Anantya Kirana yang mencuri perhatian. Sayangnya, cerita terasa repetitif, mitologi Ummu Sibyan kurang tergali, dan beberapa adegan malah terasa cringe. Sekuel ini tetap layak ditonton meski nggak sepenuhnya memenuhi ekspektasi.

Ritual santet mayat segar dalam Kitab Sijjin & Illiyyin sukses bikin bulu kuduk berdiri lewat atmosfer mencekam dan adegan gore intens. Akting Yunita Siregar juara saat berubah jadi pendendam. Sayangnya, alur ceritanya agak monoton dan gampang ditebak dibanding pendahulunya. Tetap jadi paket horor religi solid yang wajib tonton bagi pemburu teror psikologis tanpa jumpscare murahan.

A Normal Woman tampil elegan dengan visual puitis dan akting solid, terutama Marissa Anita yang memukau sebagai Milla. Isu perempuan modern dan tekanan sosial digarap berani, meski twist-nya terasa absurd dan beberapa karakter serta plot hole terabaikan. Endingnya kurang memuaskan, tapi film ini tetap layak ditonton buat yang suka drama psikologis.

Alur datar kayak slide presentasi, logikanya bikin geleng-geleng. Visualnya kaku mirip patung lilin dengan transisi PowerPoint, plus audio berantakan ala YouTube gratisan. Budget miliaran tapi hasilnya ngawur kayak tugas sekolah. Merah Putih: One For All gagal total, cuma bikin dahi berkerut dan ketawa kecut. Mending skip daripada nyesel kena visual cringe dan audio hancur.

Perfect Days adalah drama slice-of-life yang memikat, menyorot pencarian kedamaian dalam kesederhanaan lewat karakter Hirayama yang relatable dan misterius. Performa Koji Yakusho luar biasa, didukung sinematografi ciamik dan musik yang memperkuat suasana kontemplatif. Pace lambat, bukan untuk semua orang, tapi buat pencari kedalaman, ini masterpiece.

The Plague mengeksplorasi horor sosial lewat isu perundungan dan maskulinitas toksik yang menyebar layaknya virus. Atmosfer klaustrofobik diperkuat akting autentik Everett Blunck dan pesona menjijikkan Kayo Martin. Meski dinamika ketegangan kurang dan kedalaman tematik terasa hampa, ketidaknyamanan yang dihasilkan bertahan lama. Horor terbesar nyatanya lahir dari manusia itu sendiri.

Orisinalitas premis wayang kulit manusia ini bikin bulu kuduk merinding. Whani Darmawan yang haus darah benar-benar highlight yang bikin bergidik. Visual gotik Jawa dan suara gamelannya memabukkan. Meski pacing terasa bertele-tele, skrip belum matang, dan CGI danyang terlihat murahan, atmosfer mistisnya tetap segar. Sayang, eksekusi twist akhirnya terasa predictable.

Shelter menawarkan aksi brutal khas Statham dengan sentuhan emosional yang kuat, menggabungkan tema penebusan dan keluarga di latar Skotlandia yang dingin dan terisolasi. Ketegangan dibangun perlahan, akting solid, dan visual apik, meski plot twist mudah ditebak dan karakter gadis kecil kadang terasa tempelan.

Showing 91 to 100 of 160 entries

Terakhir Dilihat