Cherprang Areekul tampil menonjol dengan akting memikat, didukung chemistry pemain lain yang alami. Visual gore dan ritual gelap dieksekusi detail, meski CGI kadang kurang halus. Atmosfer horor konsisten, tema identitas dan kutukan digali dalam. Kekurangan ada di pacing yang melambat dan cerita agak predictable, tapi tetap jadi tontonan horor solid dan intens.
Animasi 3D memukau dan suara Tan Jianci sebagai Cao Cao jadi nilai jual utama, dengan visual malam berbintang yang mistis dan soundtrack epik. Cao Cao digambarkan sebagai visioner, bukan antagonis. Sayangnya, pacing lambat di awal, elemen supernatural terasa dipaksakan, karakter pendukung kurang dieksplorasi, dan transisi animasi akhir terburu-buru.
Hi-Five jadi bukti kehebatan Kang Hyeong-cheol meramu emosi dan hiburan, dengan karakter hidup dan momen kocak yang nggak receh. Ra Mi-ran, Ahn Jae-hong, Kim Hee-won, Yoo Ah-in, dan Lee Jae-in tampil solid. Akhirnya manis, pesan moralnya kuat. Subplot ada yang terburu-buru, tapi overall tetap segar dan layak tonton.
Shahid Kapoor tampil memukau sebagai Ustara, karismatik sekaligus rapuh. Chemistry dengan Triptii Dimri jadi kekuatan utama, didukung pemeran pendukung solid. Visual puitis, sinematografi detail, dan soundtrack emosional menambah nilai, tapi narasi kadang tersisih demi gaya, membuat beberapa bagian terasa melambat. O' Romeo tetap jadi thriller romansa artistik yang layak ditonton meski tak sempurna.
Komedi situasional yang mengalir alami jadi kekuatan utama, dibalut akting solid dan chemistry tiga sahabat yang terasa nyata. Sinematografi menangkap Medan dengan apik, musik dan editing pas, durasi tidak membosankan. Meski plot mudah ditebak dan ada klise, film ini tetap menghibur, ringan, penuh identitas lokal, dan layak ditonton.
Amanda Manopo tampil memukau sebagai Tina, membawa karakter kompleks yang bikin penonton tertawa sekaligus empati. Humor segar Fajar Sadboy dan keseimbangan Devano Danendra menambah warna. Kritik sosial soal pinjol dan budaya konsumtif disajikan satir, visual vibrant, OST juara. Sayangnya, nada film kadang inkonsisten dan beberapa karakter pendukung kurang tergali.
Wagner Moura tampil memukau sebagai Marcelo, sosok intelektual rapuh, dengan ekspresi yang penuh ketakutan dan senyum dipaksakan. Pemeran pendukung memperkaya lapisan cerita, proses casting-nya pantas Oscar. The Secret Agent adalah mahakarya paranoia politik, thriller yang menggugah pikiran, relevan dengan isu masa kini. Bukan tontonan ringan, melainkan refleksi sejarah dan identitas.
Samuel Rizal memukau sebagai antagonis dalam horor spiritual kental budaya Jawa ini. Akting solid dan sinematografi eksotis jadi kekuatan utama, meski pacing tengah melambat dengan VFX yang butuh polesan. Rajah horor thriller keren tanpa sensor yang unggul lewat elemen apokaliptik. Sangat layak ditonton, horor Indonesia memang top meski berat bagi penonton santai.
Fischbach tampil potensial tapi agak monoton di awal, sementara Kaplan memberi kontras kuat. Kekuatan film ada pada ambisi independen dan eksplorasi psikologis, tapi pacing lambat dan cerita membingungkan bagi non-gamer. Durasi terlalu panjang, build-up kurang variasi. Sebagai debut, Iron Lung mengesankan, atmosfernya membekas, namun narasinya tidak sempurna.
Perang Kota nggak sekadar suguhkan aksi, tapi lebih dalam ke konflik batin karakter. Visual artistik, audio mantap, dan akting trio utamanya solid banget. Cerita cinta segitiga nggak lebay, konfliknya nyata. Dialog kadang berat dan alurnya lambat, tapi film ini segar, relevan, dan layak jadi salah satu film Indonesia terbaik tahun ini.