Sita, ibu tunggal dari Pekalongan, mendapat pekerjaan di rumah sakit Semarang dan membawa putrinya, Gendis, yang memiliki gangguan penglihatan. Mereka menumpang bus terakhir melewati jalur angker Alas Roban. Ketika bus mogok, hidup Gendis berubah; ia mulai mendengar suara aneh, menggambar simbol misterius, dan sering kerasukan malam hari. Dengan bantuan Tika, sepupunya, dan Anto, sopir ambulans yang memahami mitos Alas Roban, Sita menyadari Gendis menjadi target Dewi Raras, sosok marah akibat janji ritual yang dilupakan. Sita harus kembali ke Alas Roban bersama Bu Emah untuk menjalankan ritual penebusan demi menyelamatkan Gendis sebelum malam keramat tiba.
sebagai Tika
sebagai Bu Emah
sebagai Mbah Rejo
sebagai Mbah Sakti
sebagai Anto
sebagai Sita
sebagai Penari
sebagai Gendis
sebagai Yusman
sebagai Dadang, sopir bus
sebagai Surya, kenek bus
sebagai Dukun
sebagai Dewi Raras
sebagai Petugas forensik
sebagai Wahyu
Visual lokasinya juara dengan vibe mistis dan akting yang organik. Sayangnya, paruh kedua ceritanya agak muter-muter dan CGI-nya kurang halus. Untungnya, chemistry karakter masih kuat untuk menyelamatkan film ini. Overall, film ini masih layak ditonton buat lo pecinta urban legend yang pengen uji nyali karena suasananya beneran bikin merinding sampai akhir.
Alas Roban (2026) sukses menghidupkan era 90-an dengan suasana creepy melalui warna warm dan desain produksi yang detail. Urban legend-nya membuat jumpscare terasa lebih berdampak, sementara dramanya menyentuh lewat perjuangan seorang ibu. Paduan horor dan drama terasa pas, menghadirkan ketakutan sekaligus kehangatan.
Alas Roban (2026) menawarkan kualitas produksi dan atmosfer horor yang serius, namun sayangnya gagal menggali potensi sejarah kelam lokasi sebagai sumber teror. Trauma personal tak diolah mendalam, horornya hanya jadi jump scare belaka, sehingga film ini terasa aman dan tanggung, tak benar-benar segar bagi genrenya.
Belum ada ulasan dari pengguna.