Ariel NOAH sukses membawa ruh Dilan lewat dialek dan humor Sunda yang sangat natural, melampaui versi sebelumnya. Naskahnya manis, tapi jurang usia jadi masalah besar. Ariel, Niken Anjani, hingga Raline Shah terlalu senior untuk karakter mahasiswa. Bedak tebal pun gagal menutupi kerutan dan aura bapak-bapak yang tak nyambung dengan latar mahasiswa ITB 1997.
Dilan ITB 1997 menawarkan romansa dewasa yang reflektif, dengan Ariel Noah membawakan Dilan lebih kalem dan filosofis, serta chemistry kuat bersama Niken Anjani. Visual autentik dan soundtrack nostalgia memperkuat suasana. Meski transisi cerita kadang kurang mulus dan konflik politik hanya di permukaan, film ini tetap direkomendasikan buat pencinta drama hangat dan penuh nostalgia.
Dilan ITB 1997 menawarkan slice of life yang santai dan reflektif, menyoroti proses pendewasaan tanpa konflik besar. Transformasi Dilan terasa alami, chemistry dengan Ancika cukup kuat, meski dinamika hubungan kadang kurang dalam. Atmosfer Bandung 90-an hidup, namun isu reformasi hanya jadi latar. Cocok untuk penonton yang mencari cerita hangat, bukan drama berat.