Amira (Zee Asadel), seorang santriwati cerdas dan penuh semangat, sangat bahagia saat dijodohkan dengan Furqon (Emir Mahira), ustadz yang telah lama ia kagumi sejak di pesantren. Namun, kebahagiaan itu segera memudar ketika setelah malam pernikahan, Furqon tidak pernah menyentuh Amira meski mereka sudah resmi menjadi suami istri. Hal ini membuat Amira dilanda berbagai prasangka, mulai dari dugaan bahwa Furqon memiliki gangguan seksual hingga kecurigaan bahwa Furqon mungkin mencintai perempuan lain.
sebagai Amira
sebagai Imron
sebagai Ririn
sebagai Dara
sebagai Ahmad
sebagai Wati
sebagai Afif
sebagai Furqon
sebagai Fatimah
Chemistry yang sengaja dibuat renggang, akting Zee Asadel dan Emir Mahira solid banget, ekspresi sedihnya subtil, scoring minimalis tapi menyayat, visual dan simbolisme warna keren. Premis perjodohan dan pilihan hidup Amira terasa ketinggalan buat penonton modern, pacing agak lambat, tapi film ini tetap jadi refleksi iman yang menenangkan dan penuh makna.
Pendekatannya ringan tapi emosional dengan konsep unik "orang ketiga" berupa kenangan masa lalu. Sayangnya, eksekusi konflik dan reaksi tokoh terasa kurang dalam serta terlalu singkat. Pacing-nya pun sedikit terlalu cepat di bagian akhir, membuat transisi batinnya berasa loncat. Overall, tontonan ini tetap layak disimak bagi pencari perspektif beda soal pernikahan dan pentingnya sembuh dari luka lama.
Premisnya sulit diterima logika dan too good to be true, lebih baik dinikmati tanpa banyak berpikir. Visualnya hidup lewat permainan warna, meski emosi pemeran terasa tertahan. Kehadiran komedi Neneng dan Ardit jadi penyegar penting yang menyeimbangkan suasana. Akhirnya, ini tontonan sangat dramatis yang cocok untuk santai bareng keluarga atau penikmat drama religi.
Belum ada ulasan dari pengguna.