Berlatar tahun 1920 pada masa Hindia Belanda, kisah ini mengikuti Giandra (Aditya Zoni), seorang dokter muda lulusan Stovia, sekolah kedokteran untuk pribumi. Suatu hari, Giandra membaca koran Javasche Courant yang memberitakan tentang seorang gadis desa Karuhun yang dipasung akibat penyakit kejiwaan. Pada masa itu, pemasungan dianggap sebagai bagian dari pengobatan, dilakukan secara mistik oleh seorang dukun, sesuatu yang bertentangan dengan prinsip ilmiah Giandra sebagai dokter. Gadis yang dipasung itu bernama Layla (Aisha Kastolan), sementara berita koran tersebut ditulis oleh Rikke (Aurelia Lourdes), seorang jurnalis keturunan Belanda dan pribumi.
Didorong rasa tanggung jawab dan kemanusiaan, Giandra memutuskan untuk pergi ke desa Karuhun demi menolong Layla. Perjalanan menuju desa di kaki gunung itu harus ditempuh dengan naik pedati, menandakan kesulitan akses dan keterpencilan wilayah tersebut. Setibanya di sana, Giandra disambut oleh Rikke yang penasaran dengan kedatangan seorang dokter muda ke pelosok desa. Dalam pertemuan itu, Rikke hanya mengucapkan tiga kata kepada Giandra: Kultur, Mistik, Tahayul. Tiga kata ini menjadi simbol pertarungan batin Giandra, yang harus menghadapi benturan antara ilmu pengetahuan modern yang ia pelajari dan tradisi serta kepercayaan masyarakat yang telah mengakar kuat selama turun-temurun.
sebagai Nenek Layla
sebagai Giandra
sebagai Saidah
sebagai Rikke
sebagai Perempuan Karuhun
sebagai ...
sebagai ...
sebagai Bu Soerdjadharma
sebagai Layla
sebagai Soerdjadharma
sebagai ...
sebagai Kepala Desa
sebagai ...
Belum ada ulasan dari kritikus.
Belum ada ulasan dari pengguna.