Rama (Ali Fikri) yang memiliki hubungan renggang dengan ayahnya (Ringgo Agus Rahman) dan hanya dekat dengan ibunya (Dian Sastrowardoyo), dihadapkan pada cobaan berat ketika sang ibu tiba-tiba koma. Saat hidupnya mulai terpuruk, Rama mendapat harapan baru lewat i-BU, sebuah jam tangan berteknologi AI buatan temannya. Melalui i-BU, Rama dapat melihat wajah dan mendengar suara ibunya, bahkan menggunakan teknologi tersebut sebagai alat bantu untuk merangsang otak sang ibu agar bisa pulih.
sebagai Dokter
sebagai Hendri, ayah
sebagai Robert
sebagai Rama
sebagai Diva
Diandra Paramitha Sastrowardoyo
sebagai Laras, ibu
sebagai Zyla
sebagai Ale
sebagai Bude Endang
sebagai Spiko
Esok Tanpa Ibu berhasil menyampaikan kisah keluarga tentang kehilangan tanpa dramatisasi berlebihan, mengalir dengan dialog membumi dan akting natural yang membuat konflik terasa dekat. Chemistry pemain solid, namun latar belakang keputusan pindah keluarga kurang kuat. Sentuhan teknologi AI memberi relevansi, tapi juga meninggalkan rasa tidak nyaman. Film ini menguras emosi tanpa memaksa.
Belum ada ulasan dari pengguna.