Setiap pria yang menyentuhnya pasti berujung maut. Mirah (Raihaanun), perempuan yang dihantui masa lalu kelam, menjadi simbol kesialan bagi siapa pun yang jatuh cinta padanya. Bukannya menemukan kebahagiaan lewat pernikahan, kehadiran Mirah justru membawa bencana ke mana pun ia melangkah. Warga kampung menudingnya sebagai biang kematian, mengusirnya, meludahi namanya, dan menandainya sebagai wanita pembawa sial. Namun Mirah yakin, semua ini bukan sekadar kebetulan—ia merasa ada sesuatu yang dikirimkan padanya, sesuatu yang tak kasatmata.
Dalam pencariannya menyingkap misteri kutukan yang menjerat hidupnya, Mirah bertemu Bana (Morgan Oey), pemilik warung makan yang sederhana. Berbeda dengan pria lain, Bana memperlakukan Mirah tanpa rasa takut atau prasangka, membuka celah harapan di hati Mirah yang nyaris padam. Perlahan, rasa cinta mulai tumbuh di antara keduanya, menghadirkan pertaruhan besar: berani menantang takdir dan kutukan yang selama ini membayangi Mirah.
sebagai Wiwit
sebagai Ibu Aryo
sebagai Johan
sebagai Bana
sebagai Lasmi/Laweyan
sebagai Mirah
sebagai Aryo
sebagai Budi Darmawan
sebagai Agus Dibyo
sebagai Sunyoto
sebagai Puti
sebagai Mbah Warso
sebagai Yanto
sebagai Joko Trinadi
sebagai Burhan
sebagai Gilang
sebagai Qomah
sebagai Ningsih
sebagai Bapak Aryo
sebagai Bu Endang
Raihaanun tampil luar biasa membawakan trauma Mirah di tengah atmosfer budaya Jawa yang sangat autentik. Film ini berhasil karena bukan sekadar horor, tapi punya kedalaman emosional soal diskriminasi gender. Meski ada plot hole dan ending yang bikin sedikit kecewa karena terlalu filosofis, film ini tetap bukti horor berkualitas yang sarat makna.
Belum ada ulasan dari pengguna.